[Chapter 2] BONDS



Anime/Manga: Naruto
Author: Jeanne-jaques San


×××

Disclaimers, isi, dan peringatannya sama seperti di chapter 1. Tambahannya mungkin karakter-karakter yg saya gunakan di chapter 2 ini sedikit OOC, khususnya Itachi. Jumlah kata masih tetap 3k+, tidak termasuk notes.

×××

Chapter sebelumnya...

"Pintu kamar mandi di rumahku sedang rusak. Tidak bisa dibuka dari dalam. Jadi harus ada orang yang membukanya dari luar."

Sasuke meneguk ludah. Ini buruk. Terjebak berdua bersama Naruto di dalam kamar mandi. Sangat buruk.

Wajah Sasuke seketika berubah pucat. Membayangkan hal-hal buruk apa saja yang akan diterimanya secara langsung dari Minato yang murka.


.
.


BONDS © Jeanne-jaques San

.

Chapter 2: Team 7


.
.


Dengan wajah yang semakin pucat, Sasuke berusaha membuka pintu kamar mandi di depannya. Hendel pintu itu bergerak turun naik dengan cepat, hingga terus berbunyi—

Cklek! Cklek! Cklek!

PRAK!

—lalu akhirnya patah.

Oh, sial.

Sasuke tercekat menatap hendel pintu di tangan kanannya. Horor. Sesaat ia mematung di posisinya berdiri. Tak menyadari kalau Naruto merangkak keluar dari dalam ofuro, berjalan ke arahnya dari belakang.

"SASUKE!"

"HUWAAA!"

Pelukan tiba-tiba Naruto dari belakang sontak membuat Sasuke terlonjak kaget dan melempar hendel pintu di tangannya ke belakang. Jatuh tepat ke dalam bak ofuro. Sasuke terhenyak.

"Sasuke~ ayo mandiii~" Naruto bergelayutan manja. Wajah imutnya membuat Sasuke yang menoleh sekilas ke belakang langsung gemetaran. Tak kuat lagi menahan diri untuk melakukan hal terlarang pada bocah Kyuubi itu. Hanya sisa-sisa logika Sasuke yang sejak tadi menceramahinya agar jangan berani-berani menyentuh Naruto.

Sambil menatap ke arah lain, Sasuke berusaha melepas kedua lengan Naruto yang memeluk pinggangnya dari belakang. Tapi Naruto melekat erat seperti bayi koala yang tidak ingin lepas dari induknya. Pemuda manis itu bahkan menenggelamkan seluruh wajahnya di punggung Sasuke.

"Naruto, cepat lepaskan pelukanmu. Sekarang juga."

Cara verbal itu tidak berhasil. Naruto bergeming. Tiba-tiba bocah Kyuubi itu menggesek-gesekkan sebagian wajahnya di punggung Sasuke. Seperti kucing yang ingin dielus-elus majikannya.

Sasuke bergidik, kembali gemetaran. Kali ini fantasi terliar dalam pikirannya sudah menjadi-jadi. Apalagi tadi ia sempat melihat tubuh telanjang Naruto. Tubuh kecil yang terlihat aduhai itu begitu mulus dengan kulit agak kecoklatan. Sangat menggiurkan untuk ditinggalkan kissmark dan bitemark buatannya.

PLAK!

Tangan kiri Sasuke sontak menampar pipi kirinya sendiri. Cara efektif yang langsung membuat imajinasi kotornya menguap hilang. Sasuke menghela nafas lega, setidaknya untuk saat ini.

"Naruto...," menarik nafas panjang, Sasuke kembali menggunakan cara verbal. Kali ini sepertinya ia harus menggunakan suara yang lunak agar mudah dipahami Naruto. "Tolong lepaskan pelukanmu. Aku harus mencari cara keluar dari dalam kamar mandi ini." Karena nyawaku seperti telur di ujung tanduk, lanjutnya dalam hati. Memikirkan ayah Naruto bisa muncul kapan saja membuatnya bergidik ngeri.

Naruto mendongak. Kedua matanya mengerjap saat membalas tatapan Sasuke. Tak ada suara yang keluar dari bibir mungilnya, tapi ia melonggarkan pelukannya. Sasuke tersenyum kecil. Akhirnya Naruto bisa mengerti dengan keadaan mereka sekarang.

Buru-buru Sasuke berbalik, berjalan menuju ofuro untuk mencari hendel pintu yang dilemparnya tadi. Satu tangan Sasuke meraba-raba permukaan dasar ofuro setinggi betis orang dewasa itu. Beberapa kali ia berdecak kesal, karena belum menemukan benda yang ia cari. Hingga akhirnya Sasuke memutuskan masuk ke dalam ofuro. Berniat mencari dengan menggunakan kedua kakinya ke sisi ofuro yang tak bisa dijangkau oleh tangannya. Tapi hal itu kesalahan besar, karena Naruto yang tadinya hanya bergeming melihatnya, tiba-tiba berlari menuju ofuro.

Seketika Sasuke menoleh cepat. Kedua matanya membelalak lebar. "Oi, Naruto! Jangan berlari! Kau bisa terpeles—" kalimatnya urung tuntas karena Naruto sudah melompat ke arahnya. Akhirnya malah Sasuke yang terpeleset di dalam ofuro. Tidak bisa menahan beban tubuh Naruto.

BYUUUR!

***

Minato menarik nafas lega begitu ia ke luar dari ruang pertemuan, meninggalkan anggota-anggota ANBU yang masih berada di dalam. Ia masih harus menemui Hokage ketiga setelah ini untuk membicarakan sesuatu. Tapi mengingat Naruto sendirian di rumah—

"Minato," seekor katak ninja berjenis kelamin jantan dari Gunung Myoboku—yang sudah lama menjadi mata-mata pribadi pria itu—tiba-tiba muncul di hadapan Minato. "Ada situasi buruk."

Wajah santai Minato langsung berubah serius. Fokus perhatiannya langsung tertuju pada si katak.

"Naruto sedang bersama si bungsu Uchiha itu. Di rumahmu. Di dalam kamar mandi," lapor sang katak tanpa basa-basi.

Kedua mata Minato seketika membelalak, nyaris keluar dari rongganya. "TIDAAAK!" teriaknya histeris.

Para anggota ANBU yang mendengar teriakan Minato sontak berlari keluar hampir bersamaan. Tapi baru saja mereka akan bertanya apa yang terjadi dengan kapten ANBU itu, Minato sudah menghilang dengan shunshin no jutsu-nya.

"Apa yang terjadi dengan kapten kita?"

"Apa terjadi masalah yang gawat? Apa kita harus menyusulnya?"

"Tidak perlu," sang katak yang masih ada di posisinya langsung menjawab. Semua mata ANBU langsung mengarah ke bawah. Agak terkejut melihat katak ninja itu. "Hanya Minato seorang yang dapat menyelesaikan masalah itu."

Semua ANBU saling berpandangan sebelum mengangkat bahu.

Sementara itu...

Tak sampai semenit dari tempat pertemuan ANBU tadi, Minato sudah berada di ruang tengah rumahnya. Kedua matanya langsung menyambar ke arah pintu kamar mandi yang tertutup. Dengan wajah mengeras, pria berambut kuning itu melangkah cepat ke arah pintu kamar mandi. Menendang pintu yang tak berdosa itu hingga terbuka. Sesaat Minato mematung di ambang pintu, begitu ia melihat pemandangan di dalam ofuro. Sasuke terduduk di dalam ofuro. Duduk berhadapan dengan Naruto. Sasuke masih berpakaian lengkap, tapi sudah basah kuyup. Sementara Naruto kebalikannya.

"O-Oji-san, aku bisa jelaskan semua ini." Suara Sasuke setengah tergagap, saat ia melihat ayahnya Naruto sudah dalam battle mode.

"Beraninya kau..." geram Minato sambil melangkah maju. Kedua tangannya sudah memegang kunai spesial buatannya. "Cepat menjauh dari Naruto sekarang, sebelum kunai di kedua tanganku ini melayang tepat di bagian vital tubuhmu!"

Aura berbahaya itu membuat Sasuke meneguk ludah susah payah. Dengan cepat ia berusaha melepaskan lengan Naruto yang melingkari lehernya. Namun Naruto tak mau lepas darinya. Bahkan semakin menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Sasuke.

"Naruto cepat lepaskan lenganmu!" Sasuke panik. Minato sudah tinggal lima langkah.

"Tidak mauuu~" rengek Naruto sambil menggeleng.

Rahang Minato mengatup keras. Kedua mata tajamnya mengarah tepat pada Sasuke. "Tiga..." desisnya.

Mendengar hitungan mundur Minato, Sasuke semakin bertambah panik. "Naruto! Cepat lepaskan!"

Naruto kembali menjawab dengan gelengan kepala. Kali ini ditambah dengan bibirnya mengerucut cemberut.

"Dua..."

"Narutooo! Otou-san-mu akan membunuhku jika kau tidak melepaskanku sekarang juga!"

"Sat—"

"Kenapa Tou-chan mau membunuh Sasuke?" potong Naruto sambil berbalik. Melonggarkan pelukannya dan mendongak ke arah ayahnya. Dengan gerakan tak terlihat, Minato langsung menyembunyikan kunai-kunai-nya. Wajah seramnya langsung berubah ceria. "Kenapaaa?"

"Tidak, tidak." Minato menggerakkan satu tangannya. Ia langsung memasang wajah malaikat. Bahkan dalam imajinatif, muncul sepasang sayap putih dan lingkaran bulat bercahaya di atas kepalanya. "Kata siapa Tou-chan akan membunuh Sasuke, hm?"

"Tadi Sasuke yang bilang—" wajah Naruto kembali menatap Sasuke, "—kalau Tou-chan akan membunuhnya."

Kalau tadi Naruto melihat wajah malaikat ayahnya, sekarang giliran Sasuke melihat wajah iblis pria itu. Sepasang tanduk merah dan ekor dengan ujung lancip, muncul dalam penglihatan Sasuke. Rasanya Sasuke ingin pingsan, tapi tidak jadi, karena bisa jadi pas ia membuka mata nanti, ayah Naruto sudah membuat tubuhnya siap dikremasi.

Dengan tiba-tiba kedua tangan Minato terulur, mengangkat Naruto dari ofuro di kedua ketiaknya. Kedua matanya melotot begitu mendapati Sasuke masih sempat-sempatnya terpesona melihat tubuh telanjang putranya.

BOFF!

Satu kagebunshin Minato muncul setelah pria itu berhasil menjauhkan Naruto dari si bungsu Uchiha itu. Sasuke terperanjat. Habislah riwayatnya sekarang. Kagebunshin Minato tersenyum iblis ke arahnya.

"Dia mau diapakan?" tanya kagebunshin Minato tanpa menoleh. Ia berdiri di samping ofuro—di hadapan Sasuke—dengan kedua tangan berkacak pinggang. Sasuke mengkerut ketakutan. Menempelkan punggungnya lekat di dinding ofuro.

Minato mengambil handuk. Membungkus tubuh telanjang Naruto. "Lakukan apa saja yang bisa membuatnya kapok. Misalnya, kebiri saja aset masa depannya," katanya cuek.

TIDAK! Sasuke berteriak horor dalam hati. Kedua tangannya langsung refleks memegang bagian privatnya. Ia (sedikit) rela wajah dan tubuhnya dibuat babak belur, tapi kalau menyangkut aset masa depannya yang di bawah sana—BIG NO!

Kagebunshin Minato terkekeh-kekeh seperti psikopat. Sasuke tak melawan begitu ia ditarik keluar dari ofuro oleh kagebunshin Minato. Masih berusaha melindungi aset masa depannya dengan merapatkan kedua kakinya. Si bungsu Uchiha itu menutup mata rapat-rapat, tapi tetap pasang wajah cool. Meski dalam hati sudah menangis-nangis histeris. Tapi hal yang tidak diduga terjadi.

Naruto tiba-tiba melepaskan diri dari Minato asli, dan berlari menuju ke arah Sasuke. Kedua tangannya terulur, memeluk Sasuke dari depan. Ia mendongak dengan senyum lebar. "Sasuke~ karena kita sudah mandi sama-sama. Kita juga harus tidur sama-sama~" katanya enteng, tanpa tahu permasahan kalau si bungsu Uchiha itu sudah akan dieksekusi.

JGEEER!

Kilat putih dalam imajinatif muncul di belakang Minato yang syok. Tatapan tajamnya kembali melayang ke arah Sasuke. Sasuke langsung meringis dalam hati, meski tak menyangkal ia senang mendengar permintaan Naruto barusan.

"Tapi, Naruto—" kalimat penolakan Sasuke tak sempat selesai, karena Naruto langsung memasang wajah ingin menangis. Kedua pipi mengembung. Mata yang sudah berkaca-kaca.

"Naruto tidur sama Tou-chan saja, ya?" Minato buru-buru merayu dengan lembut. Naruto menoleh ke belakang.

"Tidak mau! Malam ini, aku mau tidur dengan Sasuke!" jawabnya sambil menggeleng.

Permintaan tidak akan dikabulkan.

Minato menatap kagebunshin dirinya yang berdiri tak jauh dari Sasuke. Seakan tahu apa yang ada di pikiran Minato asli, kagebunshin Minato tiba-tiba mengubah dirinya.

BOFF!

Sasuke dan Naruto menoleh hampir bersamaan. Kagebunshin Minato berubah sosok menjadi Sasuke. Kedua mata Naruto menatap Sasuke palsu yang tak jauh darinya, sebelum ia kembali menatap Sasuke asli. Kembali ia menatap Sasuke palsu, lalu menatap Sasuke asli. Begitu terus sampai Naruto merasa lehernya pegal.

"Umm—aku tetap mau tidur dengan Sasuke yang iniii~" katanya dengan nada manja sambil menggesek-gesek sebagian wajahnya di dada Sasuke.

Entah kenapa Sasuke merasa bangga karena Naruto lebih memilih dirinya yang asli daripada sosok dirinya yang palsu itu. Heh, Uchiha Sasuke memang cuma hanya ada satu di Konoha.

Minato tak ada pilihan. Ia menarik nafas panjang, sebelum berkata, "Baiklah." Walaupun pada akhirnya ia mengabulkan permintaan Naruto, tapi sorot matanya memberi peringatan sekaligus ancaman ke arah Sasuke. Berani kau berbuat macam-macam pada putraku yang manis, nyawamu akan langsung melayang.

Sasuke mengangguk mengerti.

***

Jam weker bergambar katak di atas meja nakas Naruto menunjukkan pukul sebelas lewat lima menit. Naruto, si pemilik kamar sudah terlelap sejak setengah jam yang lalu sambil memeluk tubuh Sasuke. Berbeda dengan Sasuke yang tidur di sampingnya. Kedua mata pemuda itu masih melek karena sesuatu yang sejak tadi mengawasi di sisi lain tempat tidur Naruto.

Siapa lagi kalau bukan Namikaze Minato. Yang sejak tadi tengah duduk bersandar dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Kedua matanya tak menoleh sedikitpun dari Sasuke. Bahkan nyaris tak berkedip. Jika saja Naruto tak merengek dalam tidurnya saat tadi ia berniat menjauhkan putranya itu dari Sasuke, ia pasti sudah menendang si bungsu Uchiha itu dari atas tempat tidur.

Sasuke sebenarnya sudah mengantuk parah. Tapi kaki Naruto yang sesekali bergerak di bawah sana secara tak sengaja menggesek bagian privatnya beberapa kali, dan membuatnya mengeliat gelisah. Sekaligus horny. Tapi langsung dijauhkannya pikiran mesum itu begitu melihat ayah Naruto masih mengawasinya. Masih sangat berhasrat ingin mengkebirinya. Apalagi membuatnya impoten permanen.

Malam semakin larut. Keheningan kamar itu hanya diisi oleh detak jarum jam weker dan nafas Naruto yang berhembus teratur. Kantuk yang menyerang semakin membuat kelopak mata terasa berat bagi Sasuke. Pada akhirnya, Sasuke tak bisa menahan rasa kantuknya lagi, dan terlelap. Menyusul Naruto ke dunia mimpi.

Sesaat Minato terdiam melihat pemandangan yang tersaji di depan matanya. Sasuke dan Naruto tidur berpelukan erat. Tanpa jarak. Tanpa cela. Persis bayi kembar siam saat berada di dalam rahim. Mendadak kedua tangan Minato gatal untuk menjambaki rambut hitam Sasuke—yang anehnya masih tetap berdiri seperti pantat ayam meski dalam posisi tidur. Tapi karena ia masih punya hati nurani, Minato mengurungkan niatnya. Jika saja si bungsu Uchiha itu bukanlah anak kesayangan Mikoto—sahabat istrinya yang sudah dianggap seperti saudara perempuan sendiri—pasti sekarang bocah itu sudah tamat riwayatnya di tangannya.

Beranjak dari atas tempat tidur putranya, Minato berjalan mondar-mandir dengan kening mengerut. Kembali memikirkan cara agar Naruto bisa dilepaskan dari Sasuke, hingga akhirnya sebuah cara melintas di benaknya.

***

Sasuke terjaga dari tidurnya, begitu keesokan paginya ia mendengar bunyi jam weker. Benda laknat itu terus berdering nyaring, membuat Sasuke mengerung dalam tidurnya. Sudah siap bangkit dari posisi tidurnya untuk mematikan jam weker itu, lalu melemparnya ke dinding terdekat. Namun niat Sasuke langsung urung begitu teringat semalam ia tidur berpelukan dengan Naruto. Sasuke menyeringai mesum dalam hati.

Kedua tangannya meraba-raba tubuh yang tidur di sampingnya. Bokong yang montok. Pinggul yang ramping. Dan dada yang lumayan bidang. Tunggu, sejak kapan Naruto punya dada yang lumayan bidang? Setahunya dada bocah Kyuubi itu belum menunjukkan tanda-tanda yang menjurus ke maskulinitas pria dewasa.

Kedua mata Sasuke terbuka. Tubuhnya seketika membeku begitu melihat orang yang tidur di sampingnya bukanlah Naruto. Melainkan—

"BAKA ANIKI! APA YANG KAU LAKUKAN DI ATAS TEMPAT TIDUR INI, HEH?!" teriak Sasuke sambil mendorong dada kakaknya menjauh. Kemudian ia menatap jijik tangannya yang tadi meraba-raba tubuh kakaknya.

Itachi hanya membuka satu matanya, "Tentu saja tidur," jawabnya tenang.

"KAU—" Sasuke menggeram. Baru tersadar kalau sekarang ia tidur di dalam kamarnya. Bukan di kamar Naruto. Sejak kapan?

"Semalam Minato oji-san memanggilku ke rumahnya untuk membawa kau pulang," potong Itachi sambil menguap. Bergerak bangun dari posisi tidurnya. "Aku terpaksa tidur di sini karena semalam kau tidak mau melepaskan bajuku," sambungnya sambil menangkup kedua pipinya dan tersenyum malu-malu.

Seketika Sasuke mengernyit dengan wajah jijik melihat tingkah Itachi itu, sebelum ia menyambar bantal gulingnya. Memukul kakaknya dengan membabi buta. "KELUAR DARI KAMARKU! DAN BERHENTI BERSIKAP SEPERTI TADI! MENJIJIKAN!"

Agak kewalahan dengan amukan sang adik, Itachi akhirnya melompat turun dari tempat tidur. Sesaat sebelum ia melangkah keluar dari pintu, ia menoleh ke belakang, "Kau tahu, Sasuke? Semalam aku melihat pemandangan yang bagus. Kau ternyata masih tidur sambil menghisap jari jempol, sama seperti kau bayi dulu. Lucunya~"

Mati kutu. Wajah putih Sasuke seketika diselimuti rona merah. Memalukan. Jangan sampai aib itu diketahui Naruto. Bisa hancur harga dirinya sebagai seorang Uchiha.

***

Ruang kelas sudah hampir penuh, ketika Sasuke melangkah masuk dengan wajah bosan. Hari ini adalah pembagian kelompok ninja yang nantinya akan dibimbing oleh satu mentor. Satu kelompok terdiri oleh tiga orang; dua laki-laki dan satu perempuan. Sasuke berharap ia bisa sekelompok dengan Naruto, sisa satu perempuannya ia tak peduli.

Iruka sensei akhirnya muncul di kelas dengan senyum ramah biasanya. Semua yang ada di dalam kelas langsung duduk dengan teratur.

"Karena Naruto sedang sakit, dia tak bisa datang mendengar pembagian kelompok hari ini," ujar Iruka. Raut wajahnya sekilas terlihat cemas dan sedih mengingat murid kesayangannya itu.

Sasuke sebenarnya malas datang ke akademi hari ini, karena Naruto tak datang. Bocah Kyuubi itu pasti hangover gara-gara arak yang diminumnya semalam. Tapi karena tadi Itachi yang mengantarnya—dengan ancaman akan mengumbarkan kebiasaan tidurnya—terpaksa Sasuke menurut. Suatu hari ia pasti akan menemukan aib kakaknya itu yang lebih memalukan. Balas dendam itu lebih kejam!

"Sasuke-kun, aku berharap kita bisa sekelompok. Hehehe~" seorang gadis berambut pink yang duduk di sebelah Sasuke langsung mengatakan keinginan terbesarnya. Yang jelas akan mengubah hidupnya jika bisa sekelompok dengan sang pujaan hati.

Satu alis Sasuke terangkat. Kalau ia tak salah mengenali, gadis ini juga termasuk dalam penggemarnya yang selalu menjerit-jerit histeris. Merepotkan. Sasuke langsung mendengus tanpa sadar. Menatap ke depan. Ke arah Iruka sensei yang sejak tadi membaca pembagian kelompok tanpa ia dengarkan.

"Kemudian kelompok tujuh," Iruka menatap deretan bangku Sasuke. "Uzumaki Naruto*, Haruno Sakura—"

Gadis berambut pink di sebelah Sasuke mengerjap tak percaya. "Eh, aku sekelompok dengan Naruto-kun?"

Sasuke melirik lewat ekor mata. Sial. Kenapa Naruto bisa sekelompok dengan gadis merepotkan itu?

"—dan Uchiha Sasuke."

"HOREEE!" Sakura menjerit senang.

Sasuke berkedip dua kali. Ia tak salah dengar, kan? Naruto sekelompok dengannya? Bibir Sasuke tersenyum kecil sekilas. Jodoh memang tak akan lari ke mana-mana, batinnya dalam hati. Percaya diri sekali. Sudah lupa kalau ada gadis berambut pink yang juga sekelompok dengannya.

"Nah," begitu selesai membacakan semua pembagian kelompok, Iruka menatap seluruh muridnya. "Hari ini kalian akan bertemu dengan mentor kalian masing-masing. Saya harap kalian bisa menjadi ninja-ninja yang hebat di bawah asuh mentor kalian. Semoga beruntung."

***

"Sasuke-kun, kira-kira siapa mentor kelompok kita, ya?" tanya Sakura, untuk yang kesekian kalinya. Tak sadar dengan wajah bosan Sasuke.

Ruang kelas yang tadinya ramai sudah kosong dan hanya tinggal Sasuke dan Sakura. Menunggu kedatangan mentor kelompok mereka yang belum menunjukkan batang hidungnya. Padahal mentor di kelompok lain sudah berdatangan satu per satu, lalu membawa pergi kelompok asuhannya.

Sasuke sudah hampir kehabisan kesabaran. Ia sudah berniat hengkang dari tempat duduk, tapi yang ditunggu akhirnya muncul. Pintu kelas digeser ke samping dari luar. Wajah pria bermasker dengan rambut perak spiky ke samping melangkah masuk.

"Maaf ya saya sedikit terlambat."

Sedikit? Sedikit dia bilang?! Sasuke sudah sangat berhasrat ingin melempar pria itu dengan kunai. Tapi melihat rompi hijaunya, mentornya itu pasti seorang jounin. Kunai yang akan dilemparnya pasti akan mudah dihindari.

"Saya mentor kalian, Hatake Kakashi," katanya memperkenalkan diri. "Oh, ya. Tadi kudengar dari Iruka sensei, teman setim kalian, Uzumaki Naruto sedang sakit makanya tidak bisa hadir di pertemuan pertama kita ini," pria itu menatap Sasuke dan Sakura bergiliran. "Bagaimana kalau kita pergi menjenguknya sekarang? Kalian setuju?"

"Setuju." Sasuke menjawab tanpa banyak berpikir.

Melihat Sasuke menjawab setuju, Sakura akhirnya juga mengangguk setuju. Lumayan bisa berlama-lama dengan Sasuke.

"Baiklah," dari balik maskernya, Kakashi tersenyum. "Ayo kita pergi."

***

Senyum Minato mengembang begitu ia melihat Kakashi. Muridnya sewaktu di bawah asuhan timnya dulu. Lalu ada seorang gadis berambut pink yang berdiri di samping Kakashi, yang mengangguk sambil membungkuk sopan ke arahnya. Tetapi begitu melihat sosok Sasuke, senyuman Minato seketika menghilang. Wajahnya langsung berubah seram. Membuat Sakura langsung bersembunyi di belakang punggung Kakashi.

"Kakashi, jangan bilang kalau dia juga masuk dalam kelompok asuhanmu?" Minato bertanya tanpa menoleh dari Sasuke.

Kakashi mengangguk membenarkan. "Naruto juga termasuk, Sensei."

"Nani?!" Minato mendelik. "Kalau begitu keluarkan dia dari kelompok asuhanmu, Kakashi."

Kedua alis Kakashi mengerut bingung. "Tidak bisa, Sensei. Sistem akademi mereka yang sudah mengatur. Aku tak bisa seenaknya mengeluarkannya dari timku," jelasnya sambil mengangkat bahu.

Minato sebenarnya sudah tahu hal itu. Tapi memikirkan putranya yang manis sekelompok dengan bocah berambut ayam itu. Yang intensitas pertemuan mereka akan selalu setiap hari. Bersama-sama melaksanakan tugas tim yang diberikan. Terpaksa ia harus pasrah. Tetapi—

"Kakashi," kedua tangan Minato langsung memegang bahu Kakashi. Mendekatkan wajahnya, melanjutkan dengan bisikan, "Kumohon padamu agar menjaga Naruto. Sebisa mungkin jauhkan Naruto dari si bungsu Uchiha itu. Jika sampai aku mendengar kabar dia mencabuli putraku karena lolos dari pengawasanmu..." diberi jeda, karena Minato sengaja membunyikan kesepuluh jarinya dengan wajah seram. Kakashi meneguk ludah dengan wajah horor. "Kau juga akan merasakan jurus rasengan-ku. Paham?" Lalu ditutup dengan senyum psikopat.

Kakashi mengangguk-angguk. Kaku. Tersenyum paksa dibalik maskernya.

Mereka akhirnya diizinkan masuk, karena Minato harus pergi menemui Hokage ketiga. Sebelum pergi, Minato masih sempat-sempatnya melotot tajam ke arah Sasuke. Sasuke baru bisa menghela nafas lega begitu pria itu sudah menghilang.

Tadi Minato bilang kalau Naruto masih tidur di kamarnya. Karena tadi pagi bocah Kyuubi itu memuntahkan semua isi perutnya akibat arak sebotol yang ditelannya semalam. Mengakibatkan tubuhnya lemas dan ia sempat terserang demam tinggi.

Sasuke melangkah menuju kamar Naruto dengan Sakura yang mengekor, dan Kakashi yang langsung ikut mengawasi. Mendengar ancaman Minato tadi jelas saja membuat Kakashi ngeri. Karena saat di medan perang dulu ia pernah melihat bagaimana seorang Namikaze Minato bertarung dengan musuh. Cepat dan punya teknik serta jurus-jurus mematikan. Salah satu veteran Konoha yang namanya ditakuti oleh musuh-musuh di negara lain. Kapten ANBU yang sampai sekarang belum pernah tergeser dari posisi hierarki.

Pintu dibuka Sasuke. Naruto yang entah kenapa bisa tahu kedatangan Sasuke terduduk di atas tempat tidurnya. Bocah Kyuubi itu masih memakai piyama. Rambut kuning spiky-nya agak berantakan. Memeluk boneka katak besar. Kedua bola mata biru langitnya membulat melihat Sasuke

"Sasuke!" serunya dengan senyum lebar.

Kedua kaki Sasuke yang baru saja akan melangkah mendekat ke arah Naruto seketika berhenti karena kerah baju bagian belakangnya ditahan seseorang. Begitu ia menoleh ke belakang, ternyata Kakashi yang menahannya. Jari telunjuk pria bermasker itu bergerak-gerak ke kiri dan kanan. Memberi isyarat agar tak mendekati Naruto. Hanya Sakura yang diizinkan mendekati Naruto. Gadis berambut pink itu langsung memeluk Naruto, sebelum mencubit gemas kedua pipi bocah Kyuubi itu.

"Kakashi, lepaskan bajuku."

"Hei, panggil aku Kakashi sensei."

Sasuke memberi tatapan tajam. Yang tidak ada efeknya untuk Kakashi.

"Sasuke..." Satu tangan Naruto menggapai-gapai udara kosong. Berharap Sasuke segera mendekatinya karena ia tak bisa turun dari atas tempat tidurnya. "Sasukeee..." kali ini Naruto melancarkan aksi merengek.

Alih-alih melepaskan Sasuke dari cengkramannya. Kakashi malah mendorong Sasuke keluar dari kamar. Mengunci pintu, lalu menutupinya dengan punggungnya. Sasuke sempat bengong, sebelum ia mengedor dengan wajah kesal.

"Oi! Buka pintunya! Kakashi!"

Bagus. Sekarang bertambah satu orang lagi yang berniat memisahkannya dengan Naruto.

"Kakashi sensei, kenapa Anda mengunci pintu dan membiarkan Sasuke-kun di luar?" tanya Sakura tak mengerti. Ia mulai khawatir karena Naruto sudah memasang wajah ingin menangis.

"Sasuke..." satu isakan akhirnya lolos dari bibir Naruto yang bergetar. "Aku mau Sasuke! Sasukeee...!" Tangisannya meledak. Semua barang yang ada didekatnya jadi sasaran pelemparan ke arah Kakashi.

Sakura panik. Kakashi panik. Sasuke yang mendengar dari luar berdecak. Sudah tahu betapa cengengnya Naruto jika sedang sakit, dan hanya ia yang bisa meredakan tangisan bocah Kyuubi itu selain Minato.

"Oi, cepat buka pintunya!" Sasuke kembali mengedor pintu di depannya.

"Kakashi sensei buka saja pintunya!" seru Sakura.

"Tidak!" Kakashi menggeleng tegas.

"Sasukeee!" Teriakan Naruto semakin keras disertai tangisan.

"Kakashi, kau sengaja mau membuat situasi ini seperti film drama?!" Suara Sasuke terdengar semakin emosi.

"Hei! Panggil aku Kakashi sensei!"

"Kakashi sensei! Naruto pingsan! Demamnya tambah tinggi!"

Suara Sakura sontak membuat Kakashi menoleh cepat dan berlari menghampiri. Sasuke yang ada di luar mematung.

"Gawat," melihat Naruto yang sudah tak sadarkan diri, Kakashi langsung membopongnya. "Akan kubawa Naruto ke rumah sakit sekarang!"

Begitu Kakashi menghilang bersama Naruto, Sakura buru-buru membuka pintu untuk memberitahu Sasuke. Sayangnya, yang akan diberitahunya sudah melesat keluar rumah lebih dulu untuk pergi ke rumah sakit.

***

Seorang dokter bersama suster keluar dari ruang rawat Naruto. Kakashi dan Sasuke yang berdiri tak jauh dari ruangan langsung menoleh hampir bersamaan.

"Saya sudah memberi obat lewat suntikan agar demamnya segera turun," jelas sang dokter. "Untuk sekarang, biarkan dia beristirahat."

Kakashi mengangguk. Mengikuti kepergian dokter dan suster itu, hingga menghilang di balik tembok.

"Hei, mau ke mana kau, Sasuke? Kau tidak dengar tadi yang dikatakan dokter? Naruto harus beristirahat," cegah Kakashi saat dilihatnya Sasuke sudah akan masuk ke ruang rawat Naruto.

Sasuke mengurungkan niatnya. Dan hanya bisa menatap Naruto dari kaca kecil di pintu.

"Pulanglah. Aku akan menunggu di sini sampai Minato sensei datang," sambung Kakashi.

"Bagaimana aku bisa pulang dengan tenang kalau Naruto terlihat gelisah saat tidur?"

Kedua alis Kakashi mengerut. Ia berjalan mendekat ke arah pintu. Dan melihat dari kaca kecil kondisi Naruto di dalam. Bocah Kyuubi itu memang sedang mengeliat gelisah dalam tidurnya.

"Naruto membutuhkanku."

Kakashi menarik nafas panjang. "Baiklah," katanya akhirnya. "Tapi jangan lama-lama. Kau tahu apa yang akan menimpamu jika Minato sensei melihatmu bersama Naruto."

Mengangguk sekilas, Sasuke langsung membuka pintu di depannya. Berjalan mendekat ke arah ranjang Naruto.

"Sa—suke..." suara Naruto memanggil lirih. Mengigau dengan kedua mata terpejam.

Wajah Sasuke melembut tanpa sadar. Diraihnya jemari Naruto. Menggenggamnya dengan erat. "Aku di sini, Naruto." Sebelah tangannya yang bebas mengelus-elus rambut kuning Naruto.

Seperti sihir, Naruto yang sejak tadi gelisah dalam tidurnya langsung tenang. Sasuke menarik nafas lega. Sesaat ia memandangi wajah tertidur Naruto, sebelum wajahnya merendah. Berniat mencium dahi bocah Kyuubi itu.

"Apa yang akan kau lakukan?"

Sasuke tercekat. Tubuhnya menegang kaku. Tengkuknya meremang karena aura mencekam di belakang punggungnya. Tanpa berbalik untuk melihat, Sasuke tahu Minato yang berdiri di belakangnya.

"A-Aku tidak akan melakukan apa-apa, Oji-san."

"Lari."

"Eh?"

"Jika aku menghitung sampai tiga dan kau belum lari, kau tahu apa yang akan kulakukan padamu."
.

.

.



To be continued...



KET:

*Uzumaki Naruto. Naruto-nya tetap saya pakaikan marga Kushina. Karena marga Namikaze bukan dari sebuah klan. Itu hanya marga biasa. Contohnya seperti marga Haruno Sakura. Saya dapat info ini dari teman.