[Chapter 4] Bocchan vs Emperor


Anime/Manga: Kuroko no Basuke/黒子のバスケ
Author: Jeanne-jaques San


×××

Disclaimers, isi, dan peringatannya sama seperti di chapter 1. Jumlah kata 4k+, tidak termasuk notes. Slight, KagaKuro. Ada adegan lime.

Perubahan: rating M for safe.

Enjoy! ^^

×××

Kuroko berjalan terhuyung-huyung. Sebagian nyawanya terasa sudah setengah melayang dari badan. Jika biasanya tenaganya masih tersimpan sampai jam makan siang, kali ini Kuroko benar-benar menyerah. Kemunculan sang emperor di mansion ini jelas mimpi buruk yang jadi kenyataan. Padahal mengurus tuan mudanya saja capeknya sudah minta apapun, sekarang bertambah satu lagi yang membuat Kuroko semakin kewalahan.

"Kagami-kun..." bibirnya memanggil si kepala koki yang masih sibuk di konter, begitu sampai di ambang pintu dapur. Kagami menoleh. Terkejut saat melihat pemuda biru itu bersandar di samping pintu. Tubuh mungil itu akhirnya meluruh lunglai, setelah sebelumnya berkata lirih, "Help me..." Satu tangannya terangkat lemah, menggapai-gapai udara kosong seperti orang sekarat.

Kagami sontak membelalak. "KUROKOOO!" Panik, si kepala koki bersurai merah tua itu langsung berlari menghampiri. "Hei, kau tidak apa-apa?!" Dengan satu kaki berlutut di lantai, Kagami menepuk-nepuk pelan pipi tembem pemuda biru itu.

"Kagami-kun..." Kuroko menengadah. Bola mata biru safirnya terlihat kosong daripada biasanya. "Aku... aku..." Suaranya tersendat-sendat.

Intensitas kepanikan Kagami semakin menjadi-jadi melihat Kuroko yang sudah seperti sakaratul maut.

"Kuroko, bertahanlah! Kumohon! Kau masih terlalu muda untuk mati!"

Jab! Jab!

Dua tangan Kuroko dengan gerakan cepat menyikut kedua sisi pinggang Kagami.

"WUAAAH!" Akibatnya Kagami memekik tertahan. Tak menduga akan mendapat serangan barusan.

"Aku belum mati, Kagami-kun." Wajah tembok itu dibuat sejajar dengan wajah Kagami. Tampak gelap dan ada urat pertigaan samar di pelipis.

Kagami meneguk ludah. "Lalu... kenapa kau seperti orang mau mati?" tanyanya hati-hati.

"Akan kujelaskan itu nanti. Yang lebih penting, tolong buatkan aku vanilla milkshake. Tiga gelas tinggi."

Kagami melongo, sebelum menepuk dahinya.

.
.


Bocchan vs Emperor

©Jeanne-jaques San

.

Chapter 4. Obey Me


.
.


Dua gelas tinggi vanilla milkshake habis dalam sekejap. Di gelas terakhir, Kuroko menyeruputnya pelan-pelan dari sedotan dengan penuh khidmat. Semburat merah tipis tampak menghiasi kedua pipi tembemnya. Menikmati minuman favoritnya adalah sesuatu yang membahagiakan dalam hidupnya.

"Hei, Kuroko. Jangan hanya minum itu saja. Isi perutmu dengan makanan ini juga." Kagami meletakkan piring berisi lima potong onigiri yang dibuatnya di hadapan pemuda biru itu.

Bibir yang sejak tadi bercumbu dengan sedotan akhirnya lepas, sebelum berkata, "Nanti kumakan kalau sudah lapar, Kagami-kun."

Alis bercabang dua sontak terangkat tinggi. Heran dengan makhluk biru beraura tipis itu. Apa lambungnya hanya bisa menerima vanilla milkshake?

"Kau ini... nanti kau bisa sakit kalau tidak makan makanan yang bergizi!" omel Kagami, persis seperti ibu yang memaksa anaknya untuk makan. "Ayo makan sebelum kusuapi kau!"

Tetapi Kuroko tak merespon. Bibirnya kembali mengulum sedotan untuk menyedot minuman manis itu. Kagami menggeram tertahan. Disambarnya gelas yang masih berisi setengah vanilla milkshake. Cara efektif yang langsung menarik atensi Kuroko. Bola mata biru safir itu melotot tidak terima.

"Kagami-kun!"

"Makan dulu onigiri itu, baru akan kuberikan minuman ini!" Kagami balas melotot. Gelas diangkat tinggi-tinggi ke udara dengan mengandalkan tinggi badannya. Kuroko jelas tidak bisa menggapai gelas itu meski sudah meloncat-loncat.

"Biarkan aku menghabiskan gelas terakhir itu, baru aku akan memakan onigiri itu." Kuroko mencoba menawar dengan tatapan dan suara memelas.

Jika dulu Kagami selalu mengalah jika melihat tatapan lemas itu, sekarang karena sudah khatam dengan segala trik Kuroko, ia bisa menolak dengan gelengan kepala tegas.

"Tidak! Makan dulu onigiri itu!"

Kuroko mendengus sambil berdecak pelan. Tak ada pilihan, akhirnya ia mengambil salah satu onigiri di atas piring. Digigitnya setengah dan mulai mengunyah dengan wajah bosan yang kentara jelas.

"Nah, begitu!" Kagami mengangguk-angguk puas. "Kau harus makan, jika masih ingin tinggi badanmu bertambah."

Sesaat Kuroko mendelik. Topik sensitif yang dibahas Kagami jelas membuatnya tidak terima. Tapi yang dikatakan kepala koki itu memang ada benarnya. Kuroko memilih diam dan mengunyah onigiri.

"Ngomong-ngomong, hukuman macam apa yang kau terima dari raja iblis itu?" Kagami akhirnya bertanya. Tak bisa lagi menahan rasa penasarannya, apalagi melihat Kuroko yang hanya memakai jersey tanpa lengan, jelas membuatnya menduga-duga kalau pemuda biru itu minimal sudah digrepe-grepe. "Apa baju yang kau pakai itu miliknya?" Meski sudah tahu jawabannya, ia tetap bertanya untuk memastikan.

Kuroko terdiam. Enggan mengingat kejadian yang sudah menimpanya. Baru kali itu ia digelitik sampai tertawa tak terkendali. Air matanya sampai bercucuran dengan saliva yang mengalir di sudut bibir. Sebagai penutupan, tubuhnya juga dikotori dengan saus mustard. Iyuh.

"Kagami-kun, jika kau ingin tahu kronologis yang menimpaku, silakan bertanya pada Murasakibara-kun. Karena dia saksi mata di kamar itu."

"Huh?"

"Tidak ada siaran ulang." Kuroko menadahkan tangannya, "Berikan gelas minuman itu, Kagami-kun. Aku sudah selesai makan."

Mata Kagami beralih pada piring yang masih tersisa empat potong onigiri. "Kau hanya makan satu?" Satu alisnya terangkat takjub, "Habiskan semuanya!"

"Aku sudah kenyang, Kagami-kun."

"Jangan beralasan!"

Pemuda biru itu manyun. Demi meneguk minuman favoritnya, akhirnya ia mengambil onigiri yang kedua sebelum mengunyahnya dengan lamat-lamat.

***

Setelah mendapat kabar kalau tuan mudanya sedang menunggu di ruang study dari si megane hijau, Kuroko langsung bergegas ke tempat tujuan. Jersey sang emperor yang tadi melekat di tubuhnya sudah diganti dengan pakaian kerjanya yang biasa. Matahari sudah hampir tenggelam di ufuk barat saat Kuroko melewati koridor yang diterobos cahaya oranye dari jendela-jendela. Kuroko baru teringat kalau tuan mudanya sudah saatnya mandi.

Sialnya, saat akan berbelok di pertigaan koridor, Kuroko tidak menduga akan berpapasan dengan sang emperor. Kuroko terkejut bukan main, tapi wajahnya tetap tembok. Sementara sang emperor menyeringai saat melihat boneka mainannya.

"Kebetulan sekali, Tetsuya. Tadi kau kabur dari kamarku saat aku tak menyadari. Ternyata kau juga punya kemampuan misdirection, heh?"

Otak Kuroko dengan cepat mencari cara agar bisa kabur dari raja iblis di hadapannya. Sebuah ide gila terlintas di benaknya. Lebih baik dicoba daripada tidak sama sekali.

"Akashi-kun..." jari telunjuk Kuroko terangkat, mengarah tepat di area privat sang emperor. "Restletingmu tidak terkunci lho. Memalukan."

Sepasang mata heterokromatik membulat, sebelum menunduk untuk memeriksa. Tapi yang dikatakan pemuda biru itu ternyata hanya kebohongan. Buktinya, restletingnya masih terkunci rapat.

"Tetsuya, berani sekali kau membohongi—" ucapannya urung tuntas, ketika melihat Kuroko sudah berlari pergi. Sesaat ia terhenyak, sebelum menggeram tertahan. "Shit! Jangan pikir kau bisa kabur dariku!"

Gemuruh langkah kaki terdengar di sepanjang koridor. Kuroko tak berani menoleh ke belakang dan memilih memacu kedua kakinya untuk berlari lebih cepat dari kejaran raja iblis. Nafasnya mulai memburu akibat berlari tanpa jeda. Peluh keringat juga berjatuhan dari wajahnya. Ia yakin seratus persen, berhenti sebentar saja untuk menarik nafas pasti akan langsung tertangkap.

Sang emperor memang tidak berteriak-teriak agar Kuroko segera berhenti berlari. Namun aura mengancam yang bisa terendus oleh Kuroko membuatnya tahu sang emperor benar-benar marah. Tanpa sadar Kuroko bergidik membayangkan hukuman macam apalagi yang akan diterimanya jika dirinya tertangkap. Siapa yang harus ia mintai tolong sekarang? Karena semua orang di mansion ini tak ada yang berani melawan sang emperor, kecuali tuan mudanya. Tapi masalahnya di mata sang emperor, tuan mudanya bukanlah lawannya. Masalah berikutnya, Kuroko tidak ingin hal-hal buruk menimpa tuan mudanya karena dirinya.

Ruang perpustakaan menjadi pilihan Kuroko yang tak sanggup lagi berlari. Bola mata biru safirnya bergerak panik mencari tempat bersembunyi yang tidak diketahui. Teringat sesuatu, Kuroko langsung mendekati rak buku yang mencapai langit-langit. Dulu kalau tidak salah, ada tempat rahasia di balik rak buku ini. Di rak kelima paling ujung, ada tuas yang bisa membuka pintu masuknya.

Dewi fortuna tampaknya berpihak di Kuroko kali ini. Tempat rahasia di balik rak buku terbuka. Cepat-cepat ia masuk dan menutupnya kembali. Kuroko menarik nafas lega. Punggungnya bersandar di dinding terdekat, sebelum jatuh terduduk.

Suara pintu yang terbuka dari luar membuat tubuh Kuroko menegang. Itu pasti sang emperor. Langkah kakinya terdengar mengelilingi ruangan. Detak jantung Kuroko yang belum normal akibat berlari kembali memompa dengan cepat. Bibir bawahnya ia gigit tanpa sadar.

"Lebih baik kau keluar dari tempat persembunyianmu, Tetsuya. Aku tahu kau masuk ke ruangan ini."

Kuroko bergeming. Meski sang emperor tahu ia masuk ke ruang perpustakaan, tapi dia tidak tahu perihal tempat rahasia ini.

"Tetsuya..." suara bariton itu memanggil dengan nada berbahaya, "Jangan buat aku menunggu."

Merasa dirinya akan tetap aman jika terus bersembunyi, Kuroko kembali menghela nafas lega. Bola mata biru safir menatap lurus pada satu-satunya sofa panjang di tempat rahasia itu. Dengan langkah mengendap-endap, Kuroko berjalan menuju sofa. Ia mulai mengantuk. Sepertinya efek kekenyangan karena memakan tiga potong onigiri. Sambil menguap, Kuroko membaringkan tubuhnya sebelum menutup mata. Rasa bersalah mengendap di hatinya karena tidak bisa menemui tuan mudanya akibat terjebak di tempat rahasia ini. Semoga saja tuan mudanya bisa mengerti.

***

"Ke mana Kuroko? Aku sudah menyuruh Midorima untuk menyampaikan pesan agar dia datang ke ruang study tadi."

Aomine dan Kise saling pandang, sebelum kompak mengangkat bahu.

"Aku tidak melihat Kurokocchi-ssu."

"Mungkin Tetsu sedang beristirahat di kamarnya."

Bocah merah menghela nafas, sebelum menghempaskan pantatnya di pinggir tempat tidur. Aomine langsung melakukan tugasnya untuk melepas satu per satu pakaian yang melekat di tubuh pendek itu. Sementara Kise melenggang ke arah kamar mandi untuk menyiapkan air hangat.

"Aku belum mau mandi sebelum Kuroko datang. Cepat panggil dia kemari." Permintaan kekanakan meluncur dari bibir yang cemberut. Aomine sedikit jengkel, tapi tidak bisa membantah.

"Baiklah. Akan kubawa Tetsu ke sini." Pemuda gangurou itu berbalik, berjalan menuju pintu.

Midorima muncul setelah Aomine menghilang dari pandangan. Sebelah tangannya memegang surat yang tadi diantarkan tukang pos.

"Midorima, apa tadi kau memberitahu Kuroko agar datang ke ruang study?" tanya sang tuan muda tanpa basa basi. Megane hijau itu mengangguk. "Lalu kenapa Kuroko tidak datang?"

"Tadi katanya setelah berganti baju, dia akan segera ke ruangan Bocchan, nanodayo." Midorima mengerut.

"Tapi kenapa dia tidak—" kalimatnya terpenggal karena melihat surat di tangan Midorima. "Surat dari siapa itu?" Satu alisnya terangkat.

Surat itu diberikan pada bocah merah. Ada senyuman tipis yang mengembang di bibir Midorima, sebelum ia menjawab, "Ini surat dari kedua orangtua Bocchan, nanodayo."

"Benarkah?" Surat yang masih tersegel itu disambar dengan wajah girang. Kemudian dibuka dengan tak sabaran.

Sementara itu...

Langkah Aomine akhirnya berhenti di depan pintu kamar Kuroko. Pintu diketuk bersamaan dengan suara bass Aomine yang memanggil si pemilik kamar.

"Tetsu, apa kau di dalam? Bocchan mencarimu."

Tak ada sahutan. Aomine mengernyit. Pintu di depan akhirnya dibuka sendiri. Pemuda biru yang dicari tak ada di dalam kamar.

"Ke mana dia?" Aomine bertanya entah pada siapa. Padahal biasanya tanpa dicari pun Kuroko selalu muncul secara misterius di belakang sambil berkata 'Aku ada di sini lho'.

Furihata yang baru kembali dari dapur langsung menyapa, "Aomine, apa yang kau lakukan di depan kamar Kuroko?"

"Apa kau melihat Tetsu?" Aomine balik bertanya dengan dua alis terangkat.

Pemuda bersurai cokelat itu menggeleng. Aomine berdecak, sembari mencakar rambut biru tuanya.

"Mungkin Kuroko sedang bersama bocchan."

"Justru karena Tetsu tidak bersama bocchan, makanya aku disuruh mencarinya."

"Eh?" Furihata membelalak terkejut. "Kalau begitu aku akan membantumu mencari Kuroko!"

"Arigatou." Aomine mengangguk.

Keduanya berpisah arah.

Langkah kaki Aomine yang setengah berlari di koridor langsung melambat saat melihat Murasakibara sedang menuruni tangga. Kebetulan sekali. Mungkin pemuda bersurai ungu itu tahu di mana Kuroko.

"Oi, Murasakibara! Apa kau melihat Tetsu?"

Butler dengan tinggi abnormal itu berhenti melangkah dan menoleh. "Tadi aku melihat Kuro-chin sedang main setan-setanan bersama Aka-chin."

Aomine ternganga. Membayangkan dirinya yang berada di posisi Kuroko saat dikejar-kejar oleh raja iblis, jelas bukanlah hal yang menyenangkan.

"Gawat. Aku harus memberitahukan hal ini pada bocchan!"

***

"Bocchan, apa isi surat itu, nanodayo?" tanya Midorima. Penasaran, karena melihat tuan mudanya terus tersenyum hingga selesai membaca.

Surat kembali dilipat dengan rapi dan diletakkan di atas meja nakas. Pewaris sah Akashi itu menoleh ke arah megane hijau. "Okaa-san akan pulang seminggu lagi. Sementara otou-san akan menyusul pulang setelah bertemu dengan beberapa kolega penting," jelasnya.

Midorima ber-oh pendek.

"GAWAT!" Aomine tiba-tiba muncul sambil berteriak. Membuat tuan mudanya, Midorima, dan Kise yang baru keluar dari kamar mandi, kompak menoleh ke arahnya. "Tetsu dalam bahaya lagi!"

Bocah merah mengerut bingung. "Apa maksudmu, Aomine?"

"Tadi aku mencarinya ke kamar, tapi Tetsu tidak ada..." Aomine berkata di sela nafasnya yang masih belum berhembus teratur akibat berlari dari lantai bawah. "Saat kutanyakan pada Murasakibara, katanya Tetsu sedang main setan-setanan bersama raja iblis itu!"

Kise menarik nafas tercekat, "Kenapa nasib Kurokocchi bisa apes sekali hari ini?"

"Lebih baik sekarang kita segera menyelamatkan Kuroko!" Bocah merah melompat turun dari tempat tidur. Khawatir dengan keadaan pelayan pribadinya itu jika terlambat datang menolong lagi.

Aomine, Kise, dan Midorima mengekor di belakang. Baru kali ini melihat tuan muda mereka memasang wajah menyeramkan yang bisa membuat bulu-bulu kuduk berdiri.

***

Kuroko terjaga dari tidurnya, ketika ia sadar di luar pasti sudah gelap. Sepasang matanya menatap sekeliling. Ia masih berada di tempat rahasia. Sambil meregangkan otot-ototnya yang kaku, Kuroko berdiri dari sofa. Sebenarnya ia masih ragu untuk keluar, tapi mungkin raja iblis itu sudah pergi.

Pintu keluar dibuka dengan perlahan. Kepala Kuroko menyembul keluar lebih dulu. Celingak-celinguk memastikan. Ruang perpustakaan terlihat gelap, berarti makhluk merah yang horor itu sudah pergi.

Langkah kaki Kuroko yang baru saja bergerak tiga langkah seketika berhenti saat telinganya menangkap suara bariton.

"Akhirnya kau keluar juga, Tetsuya."

Tubuh Kuroko mematung. Keringat dingin bermunculan di wajah temboknya. Kepalanya memutar lambat ke sumber suara. Di samping jendela besar, sang emperor duduk di kursi dengan satu tangan menopang dagu dan kaki menyilang. Cahaya bulan yang baru menerobos masuk dari jendela menimpa sosok merah itu. Kuroko meneguk ludah susah payah. Tamatlah riwayatnya. Ternyata sang emperor terus menunggu hingga ia keluar.

"Kemari." Sepasang mata heterokromatik tak menoleh dari papan catur di meja depannya yang dimainkan secara solo. Kuroko berjalan mendekat. Pasrah dengan apa yang akan menimpanya. "Duduk."

Pemuda biru itu duduk bersimpuh di samping kursi. Kepalanya menunduk. Kedua tangannya yang mengepal diletakkan di atas paha.

Keheningan yang mencekam mendominasi. Atmosfir tegang terasa sampai ke pori-pori. Tanpa mendongak untuk melihat, Kuroko bisa merasakan ekor mata sang emperor melirik padanya.

"Tetsuya..." suara bariton itu akhirnya memecah keheningan. "Tidak bisakah kau patuh padaku?"

Hening.

Kuroko mengumpulkan keberaniannya yang masih tersisa, sebelum dengan tandas berkata, "Untuk apa... aku harus patuh padamu, Akashi-kun? Kau bukan bocchan. Aku hanya setia pada bocchan."

Seketika rahang sang emperor mengatup keras. Giginya menggeletuk di balik bibir yang mengatup rapat. Tanpa terduga, kedua pipi Kuroko dicapit oleh satu tangan. Pemuda biru itu dipaksa mendongak sambil menahan nyeri di pipinya.

Bola mata biru safir itu membalas tatapan. Sorot matanya memancarkan pendirian yang tak bisa digoyahkan. Kalimat yang sudah dikeluarkan tidak akan dijilatnya kembali. Sang emperor akhirnya mengalah. Tangannya dilepas dari pipi Kuroko, sebelum menutup kedua matanya.

"Pergi, sebelum aku berubah pikiran," desisnya.

Kuroko tak membuang kesempatan itu. Kedua matanya masih waspada saat berdiri dari lantai. Ia berjalan mundur tiga langkah, sebelum berbalik menuju pintu. Desahan lega baru keluar dari bibirnya setelah berjalan menjauh dari ruang perpustakaan. Sesekali ia menoleh ke belakang, memastikan tidak akan dikejar lagi.

"Kuroko!"

Bocah merah memanggil dari belokan koridor saat melihat pelayan pribadinya dari kejauhan.

"Bocchan?" Kuroko berbalik arah dan mendekati tuan mudanya.

"Kau tidak apa-apa?" Raut wajah khawatir terpancar dari tuan mudanya saat bertanya. Kuroko menggeleng. "Syukurlah..." Kedua bahunya turun dengan lemas.

"Gomen, Bocchan. Tadi aku dikejar Akashi-kun saat akan pergi ke ruang study. Makanya aku bersembunyi di ruang perpustakaan," jelas Kuroko. Sengaja tidak meneruskan sisanya. Karena bisa jadi masalah kalau sampai tuan mudanya kembali ke perpustakaan untuk menantang sang emperor adu mulut atau fisik.

"Ya, aku sudah tahu itu." Pemuda biru itu agak terkejut. "Aomine mendengarnya dari Murasakibara. Karena itu—" satu tangannya meraih pergelangan tangan Kuroko, "—mulai sekarang kau harus tidur di kamarku. Aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi padamu, Kuroko."

"Bocchan, aku malah berpikiran kalau sesuatu yang buruk akan terjadi padaku jika kita tidur bersama." Wajah tembok itu menatap curiga tuan mudanya. "Aku yang paling tahu kalau Bocchan itu jahil, mesum, genit—" kalimatnya tak sempat selesai, karena bibirnya tiba-tiba dibungkam dalam sebuah ciuman. Tuan mudanya tersenyum puas melihat wajah blank-nya.

Tanpa berkata apa-apa, sang tuan muda menarik Kuroko untuk kembali berjalan. Tak menyadari kalau pelayan pribadinya menutup mulut dengan satu tangan yang bebas dan wajah tembok itu memerah hingga telinga.

***

Di bawah selimut tebal yang menutupi seluruh tubuhnya sampai dagu, Kuroko melirik tuan mudanya yang sedang membaca buku.

"Bocchan, kapan kau tidur? Ini sudah larut malam."

"Aku belum mengantuk, Kuroko." Bibir itu menjawab tanpa menoleh dari buku yang sedang dibaca. "Lagipula kalau aku tidur, kau pasti akan kabur, kan?"

Jleb! Tepat sasaran.

"Lebih baik kau tidur di kamarku ini. Bisa berbahaya kalau kamarmu didatangi raja iblis itu saat kau tidur." Bukan untuk menakuti, tapi murni karena untuk memperingati. "Aku masih lebih baik daripada dia, kan? Paling-paling aku hanya meremas bokongmu tanpa sadar kalau sudah tidur nanti."

Heh! Kuroko melotot. Tanpa sadar ia menggeser tubuhnya sedikit untuk tidur menjauh.

"Ada satu hal penting yang ingin kutanyakan padamu, Kuroko." Buku akhirnya ditutup, sebelum diletakkan di samping bantal. Posisi tubuh bocah merah diputar menyamping. "Jawab dengan jujur."

Kuroko tertegun. Baru kali ini melihat tuan mudanya serius. "Nee, Bocchan."

Hening sejenak.

"Berapa ukuran benda privatnya? Kau pasti sudah melihatnya saat mandi bersama dia, kan?"

Pertanyaan macam apa itu? Kuroko terperangah. "Bocchan, kenapa malah bertanya hal seperti itu—"

"Jujur saja, aku penasaran!" Bola mata merah berkilat saat melanjutkan, "Apa ukuranku akan sama sepertinya kalau sudah berumur tujuh belas nanti?"

Kuroko menjerit frustasi dalam hati. Tuan mudanya punya rasa ingin tahu yang abnormal dengan ukuran benda privat. Oh, my god...

"Kata Aomine, semakin panjang ukuran-nya, semakin memuaskan pasangan kita."

Segala macam kutukan diucapkan Kuroko dalam hati khusus untuk pemuda gangurou itu.

"Kenapa diam saja? Ayo jawab, Kuroko!" Tuan mudanya menuntut dengan sorot mata menunggu.

Tarikan nafas panjang dan berat. Kuroko menggeleng. "Aku tidak melihatnya, Bocchan." Bohong. Sampai sekarang Kuroko masih ingat dengan jelas ukuran belalai gajah sang emperor, karena dipamerkan secara gratis saat mandi bersama itu. "Aku tidak tahu berapa ukurannya. Mungkin, lebih kecil dari milikku."

Bibir sang tuan muda tiba-tiba menyeringai. Kuroko baru sadar kalau ia sudah menggali kuburan sendiri. "Oya? Kalau begitu biar kulihat ukuranmu, Kuroko." Kekehan mesum meluncur dari bibir. "Jangan malu-malu. Lagipula kita sesama laki-laki. Tenang saja, aku akan jaga rahasia ini."

"Bocchan, ini sudah termasuk pelecehan. Tolong jangan paksa aku. Onegai?" Tatapan memelas digunakan Kuroko. Kedua kakinya tanpa sadar merapat di balik selimut.

Bocah merah berkedip dua kali. "Kalau tidak ingin kau perlihatkan, biarkan aku memegangnya."

"Are?" Kuroko membulat.

Tanpa menunggu jawaban, tangan sang tuan muda masuk ke dalam selimut, dan memegang benda privat di antara selangkangan pemuda biru itu. Kuroko terlambat untuk mencegah. Tubuhnya meremang karena remasan itu. Untunglah tangan nakal tuan mudanya hanya meremas dari luar celana yang dipakainya, bukan menyusup masuk ke dalam celana.

"Kuroko, ukuranmu ternyata lebih kecil dari milikku..." Tangannya yang tadi meremas milik Kuroko sudah keluar dari selimut. "Apa mungkin tadi aku salah meremas? Boleh kucoba lagi?"

Sebuah bantal mendadak menghantam wajah sang tuan muda. Kuroko mendengus, sembari mengubah posisi tidurnya menjadi membelakangi.

"Sudah cukup, Bocchan. Aku mau tidur. Oyasumi!"

***

Tengah malam, Kuroko terjaga dari tidurnya. Tenggorokannya yang terasa kering membuatnya merangkak turun dari atas tempat tidur. Jam berangka romawi di dinding menunjukkan pukul satu lewat sepuluh menit. Kuroko berjalan menuju pintu, setelah sebelumnya sempat melirik tuan mudanya yang terlelap.

Koridor yang dilewati Kuroko tampak sunyi, tapi tidak membuatnya takut dengan kehadiran makhluk-makhluk tak kasatmata yang mungkin saja bisa muncul. Anak-anak tangga dituruni satu per satu. Tepat di dua anak tangga terakhir, entah karena rasa kantuknya, Kuroko salah menginjak dan jatuh. Pergelangan kaki kanannya keseleo. Pemuda biru itu meringis kesakitan saat mencoba untuk berdiri.

"Dasar bodoh."

Kuroko tersentak. Dari arah timur, sang emperor berjalan ke arahnya. Tidak diketahui kenapa sosok merah yang lebih tinggi itu masih berkeliaran di tengah malam. Kuroko sempat mengira kalau dia salah satu makhluk astral, karena mata heterokromatik yang berpupil vertikal itu bersinar dalam kegelapan.

Gawat, aku tidak bisa lari dalam kondisi keseleo seperti ini, batin Kuroko dalam hati. Panik. Tapi tidak mungkin ia memilih ngesot untuk kabur.

Punggung sang emperor membungkuk. Kedua tangannya terulur, mengangkat Kuroko ke atas gendongan ala putri. Kuroko memilih tak meronta. Sadar kalau pemberontakannya akan berakhir sia-sia.

Tubuh mungil itu diletakkan di sofa panjang yang ada di ruang tengah. Kuroko mengerjap saat tangan sang emperor mulai mengurut kakinya yang keseleo.

"Kakimu bisa bengkak jika tidak cepat diberi penanganan seperti ini."

"Oh."

Ringisan pelan sesekali keluar dari bibir Kuroko saat rasa nyeri terasa menggigit dari pergelangan kakinya. Rasanya aneh melihat sang emperor yang berubah baik. Apa kepalanya baru saja terbentur?

"Akashi-kun..." suara Kuroko memanggil pelan, "Kenapa kau belum tidur?"

"Aku tidak bisa tidur." Sang emperor menjawab tanpa menoleh. "Aku teringat Tetsuya."

"Aku?" Jari telunjuk Kuroko menunjuk dirinya.

"Bukan kau. Tapi Tetsuya di dunia asalku."

Kuroko terdiam. Tangan besar yang mengurut kakinya sudah ditarik kembali. "Ano—arigatou, Akashi-kun."

"Aku tidak butuh ucapan terima kasih..." wajah dingin sang emperor mendekat bersamaan dengan tangan kanannya yang meraih tengkuk Kuroko. Pemuda biru itu membeku saat kedua bibir mereka bertemu. Tekanan di bibir semakin terasa jelas. Tanpa melepas ciuman, tubuh mungil itu didorong hingga terlentang.

Otak Kuroko tidak bisa diajak kerja sama untuk mematuhi perintahnya. Kedua tangannya ditahan di atas kepala hanya dengan satu tangan. Kuroko menarik nafas panjang ketika bibirnya dilepas.

"Akashi-kun... berhenti..."

Bibir dingin itu turun ke leher. Memberi kecupan-kecupan ringan di beberapa titik, sebelum berhenti di perpotongan antara leher dan bahu. Nafas hangatnya menggelitik. Kuroko menjerit tertahan saat merasakan gigitan. Tubuhnya mengeliat gelisah. Gesekan lutut di selangkangan mulai membuatnya terangsang.

"Kumohon, Akashi-kun..." Kuroko menggeleng dengan mata memanas, "Jangan, aku tidak mau!"

BRUK!

"Aww."

Tubuh Kuroko terjatuh di lantai samping tempat tidur dengan tidak elitnya. Kedua matanya langsung mengedar ke sekeliling. Ini kamar tuan mudanya. Tatapan Kuroko jatuh pada sosok bocah merah yang masih terlelap di atas tempat tidur, sebelum menghembuskan nafas lega lewat mulut.

"Syukurlah yang tadi hanya mimpi," gumamnya hanya untuk didengar sendiri.

Dengan bertopang di pinggir tempat tidur, Kuroko bangkit berdiri. Langit masih gelap di luar karena matahari yang belum muncul. Kuroko berjalan menuju pintu.

Koridor tampak sunyi saat dilewati. Sepertinya baru Kuroko seorang yang bangun.

Saat melewati ruang hall, Kuroko merasa penasaran karena pintu kembar yang biasa tertutup itu sudah terbuka. Siapa yang sudah bangun dan ada di dalam sana?

Ternyata, yang ada di dalam ruang hall adalah sosok yang paling tidak ingin Kuroko temui. Sang emperor. Sosok merah itu sedang berdiri membelakangi di depan sebuah foto ukuran besar di dinding. Foto yang menampilkan sosok tuan dan nyonya Akashi; Akashi Masaomi dan Akashi Shiori.

"Di mana kedua orang di dalam foto itu?" Pertanyaan tiba-tiba meluncur dari bibir sang emperor. Murasakibara yang ternyata juga berada di dalam ruang hall itu mengangkat punggungnya dari salah satu pilar tempat ia berdiri sambil bersandar.

"Sejak dua minggu yang lalu kedua orangtua bocchan pergi mengurus bisnis. Semalam kudengar dari Mido-chin, mereka akan pulang seminggu lagi," jelas Murasakibara.

Kuroko sudah berniat akan pergi dari situ, ketika ia mendengar sang emperor kembali berkata.

"Apakah dia sangat dicintai?"

Kepala Murasakibara miring sedikit, "'Dia'?" Maksudnya bocchan?"

Sang emperor mengangguk.

"Tentu saja. Karena bocchan adalah pewaris tunggal Akashi." Pemuda bersurai ungu itu jadi tergelitik untuk balas bertanya, "Bagaimana dengan Aka-chin sendiri?"

Hening panjang membuat Kuroko mengira sang emperor tidak ingin bercerita. Terdengar tarikan nafas panjang, sebelum kedua belah bibir itu terbuka.

"Di dunia asalku, aku juga pewaris tunggal Akashi," sang emperor memulai. "Aku sangat dicintai oleh kedua orangtuaku. Terlebih lagi, oleh okaa-sama. Di umurku yang ketiga belas tahun, okaa-sama meninggal. Sejak itu, otou-sama membesarkanku dengan mentalitas 'harus sempurna di segala bidang' agar disebut layak menjadi keluarga Akashi."

Sekarang Kuroko sedikit mengerti dari mana datangnya kepribadian sang emperor yang selalu menganggap dirinya absolut itu. Entah kenapa Kuroko merasa lega tuan mudanya tidak memiliki kepribadian yang aneh dan menakutkan seperti sang emperor.

***

"Kita bermain petak umpet!" Ide itu tercetus keluar dari sang tuan muda yang dilanda kebosanan siang itu. Dikarenakan guru privat biolanya yang tidak bisa datang ke mansion untuk mengajar, makanya jam belajarnya jadi kosong.

Aomine dan Kise tidak bisa menolak. Apalagi Kuroko. Sementara Midorima sedang pergi mengurus sesuatu di kota bersama Hyuuga dan beberapa pelayan laki-laki lain.

"Kalau begitu," jari telunjuk si bocah merah mengetuk-ngetuk dagunya. Siapa yang akan ditunjuknya lebih dulu untuk berjaga, ya? "Kise, kau yang jaga lebih dulu."

"Baiklah-ssu!" Pemuda kuning itu mengangguk dengan bibir tersenyum lebar.

Sang tuan muda dan Aomine yang paling semangat langsung berlari mencari tempat bersembunyi. Sementara Kuroko melenggang santai di koridor, sepertinya tidak terlalu peduli jika dirinya ditemukan lebih dulu.

Sosok Murasakibara yang berjalan di teras halaman sebelum masuk ke mansion menarik atensi Kuroko yang tak sengaja melihat dari jendela. Kepalan tangan Kuroko menepuk di atas telapak tangannya begitu sebuah ide terlintas di benaknya. Kalau ia tak salah ingat, beberapa hari yang lalu ia melihat kelinci berbulu putih berkeliaran di halaman. Kecintaan Kuroko terhadap hewan-hewan lucu membuatnya tidak berpikir dua kali untuk pergi mencari. Sepertinya ia sudah lupa kalau sekarang tengah bermain petak umpet.

Keluar dari mansion, Kuroko mulai menyisir halaman yang luasnya tak main-main. Butuh kesabaran ekstra memang untuk mencari seekor kelinci di halaman seluas ini. Tapi Kuroko tak peduli, kalau tak ketemu hari ini ia bisa mencoba mencari besoknya lagi, dan besoknya lagi, dan besok-besoknya lagi sampai ketemu. Pemuda biru itu sepertinya tidak sadar kalau dirinya masokis.

Semak-semak, di belakang pepohonan, di antara bunga-bunga, diperiksa Kuroko dengan teliti. Tapi yang lebih banyak ditemukan malah kadal dan ulat bulu. Melewati kolam ikan, Kuroko sempat melihat ikan-ikan yang muncul di permukaan air. Sepertinya barusan Murasakibara yang memberi makan ikan-ikan itu. Kuroko mengedikkan bahu, sebelum berlalu.

Langkah Kuroko sontak berhenti saat melihat sang emperor sedang duduk di sebuah kursi panjang. Di bawah pohon momiji yang berguguran, sosok merah itu terlihat sedang membaca sebuah buku yang diletakkan di atas pangkuan kakinya yang menyilang. Refleks, Kuroko langsung bersembunyi di semak-semak terdekat dan mengintip diam-diam. Sejak semalam, makhluk merah yang ditakuti itu tidak memperlihatkan wujudnya saat makan malam dan juga sarapan pagi tadi. Mungkin dia sudah cukup tahu diri untuk tidak sok berkuasa di mansion, begitu pikir Kuroko.

Niat Kuroko untuk segera pergi langsung urung saat bola mata biru safirnya menangkap makhluk kecil berbulu putih yang duduk di samping sang emperor. Itu kelinci yang ia cari!

Srek!

Semak yang tak sengaja tersenggol lengan Kuroko langsung menimbulkan suara yang menarik atensi sosok merah.

"Siapa itu?"

O-owww. Kuroko merutuki kebodohannya sendiri. Dengan hati-hati, ia merangkak menjauh dari semak-semak. Otaknya memerintah agar segera kabur. Bisa runyam masalahnya kalau sang emperor sampai tahu keberadaannya.

Gerakan Kuroko seketika terhenti saat mendengar suara gunting. Meneguk ludah, Kuroko memutar kepalanya dengan lambat ke belakang. Nafasnya tertahan di tenggorokan. Sang emperor sudah berdiri dengan satu tangan memegang gunting. Benda itu berkilat menakutkan.

"Apa yang kau lakukan di sini, Tetsuya?" Alis merah terangkat saat bertanya. Gunting yang tadi teracung segera diturunkan. Kuroko menghela nafas lega dalam hati, nyawanya selamat dari gunting itu.

"Ano... aku sedang bermain petak umpet dengan bocchan dan yang lain," Kuroko berkata setengah terbata. Untung saja ia punya alasan yang masuk akal. "Tadinya aku mau bersembunyi di balik semak ini, tapi tidak sengaja melihat Akashi-kun." Sengaja bohong. Padahal niatnya mencari kelinci, tapi yang ketemu duluan malah raja iblis di depannya. Horor sekali.

"Dasar bocah." Hanya itu komentar sang emperor, sebelum berbalik ke kursi yang tadi didudukinya. Kelinci berbulu putih itu kembali menempel di sampingnya.

Kuroko mengerjap. Tatapannya tertuju pada kelinci yang kelihatannya sudah jinak di tangan sang emperor. Bagaimana bisa?

"Ano, Akashi-kun..." tanpa sadar Kuroko berjalan mendekat. Rasa takutnya sudah menguap hilang. "Kelinci itu—"

"Ambil saja. Dari tadi dia tidak mau pergi," potong sang emperor tanpa menoleh dari buku yang kembali dibacanya.

"Are?" Kepala Kuroko setengah miring. Bingung. "Memangnya kenapa dia tidak mau per—" kalimatnya terpenggal. Perban putih yang melingkar di kaki belakang hewan kecil itu langsung membuat Kuroko membungkukkan punggungnya untuk memastikan. "Kelinci ini terluka? Apa Akashi-kun yang membalut lukanya?"

Tak ada jawaban. Tetapi Kuroko bisa melihat anggukan kecil. Pemuda biru itu tertegun. Pandangan buruknya terhadap sang emperor lenyap tak berbekas. Ternyata dia masih punya sisi baik, gumamnya dalam hati.

Tanpa sadar, Kuroko duduk di kursi panjang yang sama. Satu tangannya mengelus-elus lembut kelinci berbulu putih itu. Sang emperor melirik pemuda biru di sampingnya tanpa kentara. Keduanya tenggelam dengan kegiatan masing-masing tanpa ada pembicaraan.

Entah sudah berapa lama sang emperor membaca bukunya, hingga ia baru tersadar kalau kepala Kuroko menyandar di lengannya. Pemuda biru itu tertidur dengan kelinci di atas pangkuannya. Bibir yang jarang memperlihatkan senyuman itu sedikit melengkung. Surai biru dielus lembut tanpa berniat mengusik. Sang emperor akhirnya menutup buku, berniat menikmati wajah tertidur malaikat biru di sampingnya dalam diam.

.

.

.

End of Chapter Four