[Chapter 1] BONDS



Anime/Manga: Naruto
Author: Jeanne-jaques San


×××


Disclaimers: Semua karakter yang dipakai dalam fanfiksi ini bukanlah milik saya. Mereka adalah milik Masashi Kishimoto. Namun karya fanfiksi ini adalah sepenuhnya milik saya.

Setting: Canon Universe yang dibuat dengan Alternate Reality dan Alternate Timeline. DIVERGENCE; Tidak ada pembantaian Klan Uchiha, Kushina meninggal saat melahirkan Naruto, Naruto memiliki Kyuubi dalam dirinya, Namikaze Minato belum menjadi Hokage ke-4 (saya buat menjadi Kapten ANBU di fic ini), dll—yang lainnya nanti akan saya tambahkan seiring berkembangnya jalan cerita.

Rating: T (nantinya akan berubah seiring berkembangnya jalan cerita)

Genre(s): Friendship, Family, Humor, Romance, Drama (well, akan bertambah nantinya)

Pairing(s): Sasuke/Naruto (SasuNaru)main pairing, Minato/Naruto. (well, akan bertambah nantinya)

Words: 3k+ words

Status: Chaptered; Work In Progress; Chapter 1

Peringatan: Fanfiksi ini bertema Boys Love; yang menceritakan hubungan antara laki-laki dengan laki-laki. Possible Out Of Characters; Innocent!Naru, Pervert!Sasu. Ada sedikit adegan ciuman. Paragraf dan dialog yang di-italic adalah flashback. Jangan bilang saya tidak memperingatkan kalian. Tidak menerima apresiasi negatif atas semua hal yang sudah saya peringatkan.

Inspired by: All Naruto manga dan movies. Komik Kagetora (vol 4) karya Akira Segami.

Summary: Sejak Kushina meninggal, Naruto tinggal bersama Minato. Ayahnya yang terkenal Father Complex seantero Konoha. Yang tidak akan membiarkan siapapun menyentuh putra satu-satunya yang manis itu. Semua orang yang tahu betapa mengerikannya Minato (jika marah) langsung memilih langkah aman dengan tidak berurusan dengan veteran Konoha itu. Tapi ada satu orang di Konoha yang berani cari mati. Uchiha Sasuke, yang sejak bayi sudah menyukai Naruto dan selalu melakukan hal-hal mesum pada bocah Kyuubi itu.

.

Somehow, enjoy!

.
.


Gemuruh langkah kaki terdengar di sepanjang koridor akademi bersamaan dengan suara-suara teriakan dan histeris girang para murid yang hari itu sudah dinyatakan lulus sebagai genin. Para orangtua murid yang sudah menunggu di halaman depan gedung akademi sontak menoleh bersamaan ke arah pintu utama yang terbuka dari dalam, dan melihat anak-anak mereka berlari berhamburan keluar dengan senyuman lebar.

"Otou-san, aku berhasil!"

"Okaa-san, lihat-lihat! Aku sudah mengenakan pelindung dahi ini!"

Seketika semua suara yang ada di sana bercampur jadi satu. Ekspresi bahagia, terharu, dan bangga tergambar jelas di wajah para orangtua yang ada di sana saat melihat daun-daun kecil mereka akhirnya sudah resmi menjadi shinobi-shinobi yang mulai hari ini akan menjadi pelindung pohon besar Konohagakure.

Di koridor akademi yang sudah lengang, tampak Naruto berjalan seorang diri tanpa mengalihkan kedua matanya dari sesuatu yang digenggam kedua tangannya. Kedua bola mata berwarna biru langit itu masih terkagum-kagum menatap pelindung dahi miliknya. Masih sedikit tidak percaya kalau ia berhasil mendapatkan benda itu dan sudah menjadi genin, hari ini.

Langkah kaki Naruto berhenti tepat di ambang pintu utama. Kedua tangannya sibuk mengikat pelindung dahi yang berukir simbol Konoha itu di dahinya. Dan begitu selesai, ia menarik nafas panjang, kemudian tersenyum lebar.

"Aku berhasiiil...!" seru Naruto dengan suara keras, hingga membuat hampir semua orang yang ada di halaman depan gedung akademi seketika menoleh ke arahnya. Beberapa orang dewasa tampak tersenyum dan tertawa geli melihat pemuda berwajah manis dan berambut kuning itu. Membuat Naruto langsung meringis malu sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Kedua mata Naruto yang mengedar tiba-tiba menoleh ke sosok yang dikenalinya. Naruto berkedip dua kali begitu dilihatnya sosok itu sudah berjalan menjauh, tak peduli kalau orangtuanya mungkin ada di antara salah satu kerumunan itu.

Padahal arah rumahnya bukan ke arah sana, gumam Naruto dalam hati sambil melangkah untuk menyusul. Sadar kalau jaraknya dengan sosok itu semakin menjauh, Naruto akhirnya mengubah langkahnya menjadi berlari sambil berseru memanggil.

"SASUKEEE...!"

.
.



Chapter 1: Father Complex



.
.


Sasuke benar-benar tak menghentikan langkahnya meski ia sudah mendengar suara Naruto yang terus memanggil namanya dari belakang. Suasana hatinya sedang buruk sejak kemarin. Walau hari ini ia sudah menjadi genin, tak ada perasaan senang yang membuatnya tersenyum begitu keluar dari gedung akademi tadi.

"SASUKEEE! HEEEIII! JANGAN PURA-PURA TULI!" geram Naruto akhirnya. Tidak suka diacuhkan. Apalagi oleh Sasuke, yang notabene teman sepermainannya sejak masih bayi.

Suasana hati Sasuke semakin bertambah buruk karena suara berisik Naruto. Niatnya untuk mencari ketenangan di danau yang selalu didatanginya sepertinya tidak akan terwujud. Menarik nafas panjang, Sasuke akhirnya berbalik. Ia tersentak begitu dengan tiba-tiba Naruto melompat untuk menerjangnya. Refleks Sasuke yang sudah terlatih dengan baik langsung bekerja dengan menghindar ke samping.

"Eh?" Kedua mata Naruto membelalak. Tidak bisa membuat tubuhnya yang masih melayang di udara berhenti begitu menyadari jalan di depannya sudah menurun.

Untuk yang kedua kalinya, Sasuke tersentak. Dengan cepat ia berlari untuk menggapai sebelah lengan Naruto dan langsung menarik tubuh itu ke dalam pelukannya. Sasuke tak bisa mengelak saat kedua tubuh mereka bersamaan merosot jatuh dari bukit berumput yang memiliki kemiringan 45 derajat. Telapak tangan kanan Sasuke langsung menahan belakang kepala Naruto, sementara tangan kirinya melingkar di pinggang pemuda manis itu. Kedua tubuh itu akhirnya berhenti di tanah yang rata; dengan posisi Sasuke di bawah dan Naruto di atas tubuhnya.

"Sasuke, kau tidak apa-apa?!" tanya Naruto dengan raut wajah dan suara khawatir, begitu ia mengangkat wajahnya dari dada Sasuke. Dilihatnya nafas Sasuke yang masih memburu berat dengan dada yang naik turun.

Tak ada jawaban dari Sasuke. Kedua matanya masih terpejam dengan nafas yang mulai berangsur teratur. Naruto menunggu sambil menggigit bibir bawahnya.

"...Menyingkir," Sasuke akhirnya bersuara. Kedua kelopak mata itu terbuka dan ia menatap Naruto yang masih terduduk di atas perutnya. "Kau berat, Dobe!"

"HYAAA!" Naruto menjerit kaget, begitu Sasuke tiba-tiba mendorongnya hingga jatuh terduduk di tanah dengan pantatnya lebih dulu. "Auuuw... ittai..." ringisnya, nyaris menangis.

Sasuke mendengus sambil bangkit berdiri. Kemudian membersihkan tanah dan rumput yang menempel di bagian belakang baju dan celananya karena terjatuh tadi. Naruto sebenarnya ingin sekali menyemburkan kekesalannya. Tapi tidak jadi, begitu teringat tadi Sasuke sudah menolongnya saat terjatuh dari atas bukit. Kalau tadi ia jatuh sendiri, pasti sekarang beberapa bagian tubuhnya sudah cidera dan luka-luka.

Kedua mata Sasuke akhirnya kembali menoleh ke arah Naruto. Pemuda manis itu masih menggembungkan kedua pipinya sambil terus menatapnya. Tanpa sadar sebuah senyuman tipis terukir di bibir Sasuke melihat ekspresi imut itu. Kemudian tanpa mengatakan apa-apa, Sasuke mengulurkan kelima jarinya yang terbuka ke arah Naruto.

Naruto berkedip dua kali, sebelum ia meringis senang, dan meraih tangan Sasuke. Dengan bantuan tarikan tangan Sasuke, ia bangkit berdiri dari posisi duduknya.

"Kau ini..." Sasuke menghela nafas, "Makan apa saja sampai berat badanmu semakin bertambah?"

Namun bukan jawaban yang didapatnya, Naruto hanya menjulurkan lidahnya mengejek. Sasuke menggeram gemas dalam hati, ingin rasanya ia mencubit salah satu pipi Naruto yang dihiasi tiga garis seperti kumis kucing.

"Sasuke, kenapa kau belum memakai pelindung dahi milikmu?" tanya Naruto dengan kepala setengah miring dan kening mengerut, begitu sadar tidak melihat benda yang ia tanyakan tidak melekat di salah satu bagian tubuh sang bungsu Uchiha.

Sasuke membuang pandangannya ke arah danau. "Aku belum ingin memakai benda itu," katanya dengan nada suara sedikit tak peduli.

"Hei! Jangan begitu!" seru Naruto tidak terima sambil berkacak pinggang. "Harusnya kau senang dan bangga karena hari ini kita sudah jadi genin! Genin!" Sengaja ia menekan kata 'genin' dengan kedua mata membulat.

Lewat ekor matanya, Sasuke melirik Naruto yang masih membulatkan kedua matanya. Tiba-tiba pemuda manis itu meraba-raba celananya. Sasuke jelas kaget. Ia tahu Naruto itu hiperaktif, tapi sejak kapan jadi agresif yang menjurus ke arah mesum begini? Jika sampai 'kunai tumpul' kebanggaannya (tidak sengaja) disentuh, jangan harap ia akan membiarkan Naruto kabur begitu saja sebelum ia meminta pertanggungjawaban.

"Ketemu!" Naruto memekik girang begitu pelindung dahi yang dicarinya berhasil ditarik keluar dari kantong celana Sasuke.

Sasuke sempat bengong. Sial. Jadi Naruto hanya mencari benda itu? Bukannya menyentuh—tunggu, kenapa ia malah mengharapkan hal mesum seperti itu? Dasar hormon sialan.

Naruto tersenyum lebar, "Kalau kau belum memakainya, biar aku yang memakaikannya!" Dan tanpa menunggu persetujuan dari si pemilik benda, Naruto berjinjit—salahkan tinggi badan Sasuke yang lebih tinggi lima senti darinya—di depan sang bungsu Uchiha untuk memakaikan benda itu di dahi, sama sepertinya.

Oh, sial! Rutuk Sasuke dalam hati. Wangi tubuh Naruto tercium dengan sangat jelas dari jarak mereka yang terlampau dekat. Benar-benar manis dan menggoda. Apalagi bibir mungil yang setengah terbuka itu seolah-olah memanggil untuk minta dicium. Sasuke menelan ludah diam-diam. Mungkin tak apa-apa kalau ia mengecup bibir Naruto sedikit. Kemudian ia bisa beralasan kalau itu kecelakaan. Sudut bibir Sasuke terangkat tanpa disadari oleh Naruto, memperlihatkan seringai licik khas dirinya.

Tepat begitu Naruto selesai mengikat pelindung dahi itu, tiba-tiba Sasuke menahan pinggang pemuda manis itu di kedua sisi dengan kedua tangannya. Kedua kening Naruto sontak mengerut, bersamaan dengan wajah Sasuke yang mendekat ke arahnya.

Ketika dua bibir itu nyaris bersentuhan, tanpa diduga Minato muncul di belakang Naruto dengan shunshin no jutsu-nya, dan langsung mengagalkan niat Sasuke yang akan mencium putra kesayangan satu-satunya. Sang Konoha no Kiiro Senkou itu langsung menempelkan sesuatu yang dipegang tangan kirinya di depan wajah Sasuke.

Sasuke seketika membatu. Pertama, karena melihat ayah Naruto, Namikaze Minato yang dikenal oleh semua warga Konoha sebagai father complex terhadap Naruto. Kedua, karena yang sekarang diciumnya bukanlah Naruto, melainkan seekor katak berjenis kelamin betina—yang sepertinya sengaja dipanggil Minato dari Gunung Myoboku.

"Tou-chan?" Naruto mendongak ke arah ayahnya, sebelum menoleh ke arah Sasuke dengan kedua mata membulat terkejut, "Wow..."

BOFF!

Katak betina itu akhirnya menghilang, setelah sebelumnya memberikan kedipan genit ke arah Sasuke. Wajah Sasuke berubah pucat dan rasanya ia ingin muntah. Ia berciuman dengan katak. Dan itu semua karena ulah ayahnya Naruto!

Ekspresi seram Minato langsung berubah ceria begitu ia menoleh dan menatap putra kesayangannya. "Naruto! Tou-chan bangga sekali padamu karena hari ini sudah menjadi genin!" serunya dengan nada riang, sembari melempar-lempar Naruto ke udara.

Tawa berderai keluar dari mulut kedua ayah-anak itu. Minato sengaja mengalihkan fokus Naruto dari Sasuke. Dan tawa keduanya baru berhenti begitu Minato tiba-tiba mencium bibir Naruto di depan mata Sasuke.

Sasuke terperangah. Memang ciuman seperti itu sudah jadi hal wajar di antara ayah-anak itu. Bahkan sejak bayi—saat ia bermain-main bersama Naruto—Sasuke sudah melihat hal seperti itu dengan kedua matanya sendiri. Tapi, tetap saja... ia cemburu!

Minato tersenyum penuh kemenangan sekaligus mengejek, begitu ia menyudahi ciuman itu bersamaan dengan Sasuke yang mendecih sambil membuang pandangannya ke arah lain. Padahal Minato sangat mengharapkan bisa membuat si bungsu Uchiha itu menangis sekarang. Sayangnya hal itu mustahil, karena Sasuke tidak cengeng seperti Naruto.

"Bukannya misi Tou-chan baru selesai sore ini, kan?" Naruto bertanya bingung, begitu ayahnya sudah menurunkannya dari gendongan.

Minato menoleh, "Kebetulan misi itu bisa selesai dari waktu perencanaan," jawabnya dengan bibir tersenyum. "Makanya saat di perjalanan pulang ke desa, Tou-chan langsung bergegas cepat karena ingat hari ini kau lulus dari akademi."

Naruto ber-oh panjang. Tapi tidak menutupi kegembiraannya bisa melihat ayahnya sudah pulang ke desa.

Sasuke yang merasa dikacangi akhirnya berjalan pergi dari situ, sembari memasukkan kedua tangannya di kedua sisi saku celananya. Naruto yang melihat itu seketika berseru.

"Sasuke! Kau tidak lupa janjimu, kan!?"

Sasuke menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang dengan satu alis terangkat.

"Kau berjanji akan mentraktirku makan di Ichiraku Ramen!"

"Oh." Sasuke baru teringat. Kedua bola matanya bergerak, menoleh ke arah Minato yang langsung memberinya sorot mata 'Tidak akan kuizinkan kau pergi berdua saja dengan putraku yang manis!'. Menghela nafas panjang, Sasuke kembali meneruskan langkahnya sambil berkata, "Lain kali saja." Sasuke cukup tahu diri kalau ia tak bisa melawan Minato. Level kekuatannya dengan pria itu sangat beda jauh. Seperti semut melawan gajah.

Naruto menghentakkan kakinya sambil menggembungkan kedua pipinya kesal, begitu Sasuke sudah berlalu pergi. Minato yang melihat ekspresi manis putranya itu langsung ber-awww gemas dalam hati.

"Huh! Selalu saja begitu! Dasar Teme!" dengus Naruto.

"Kalau begitu, biar Tou-chan yang akan mentraktirmu makan ramen sepuasnya hari ini," kata Minato dengan senyum lebar.

Dengan cepat Naruto menoleh ke arah ayahnya. Kedua bola matanya berbinar-binar senang. "Horeee...! Aku sayang Tou-chan!" serunya manja.

***

"Mengenai misi khusus besok... Tou-san juga akan ikut denganmu."

Langkah kaki Sasuke sontak berhenti begitu ia mendengar suara ayahnya dari salah satu ruang pertemuan di rumahnya.

"Kalau misi ini sukses, Itachi... secara informal, penerimaanmu ke pasukan ANBU akan diputuskan. Kau mengerti, kan?"

"Tidak apa-apa. Tidak perlu khawatir begitu..." kali ini Sasuke mendengar suara Itachi, "Daripada itu—"

"Misi besok akan jadi misi yang sangat penting bagi klan Uchiha!" potong ayahnya cepat, sebelum Itachi menyelesaikan kalimatnya.

Sasuke menggigit bibir bawahnya, sembari berbalik dan berjalan menuju kamarnya. Ternyata memang tak ada gunanya ia membicarakan mengenai kelulusan akademinya besok dengan sang ayah. Ayahnya pasti akan pergi bersama Itachi ke misi khusus itu, daripada pergi ke akademinya.

Selalu saja, kakaknya yang selalu diperhatikan berlebihan oleh ayahnya...


"Halo, Sasuke. Tidak mampir kemari untuk membeli senbei?"

Sasuke tersentak dari lamunannya begitu bibi si pemilik warung Senbei Uchiha menyapanya dengan ramah seperti biasa. Begitu Sasuke menoleh, dilihatnya wanita paruh baya itu tersenyum ke arahnya.

"Ah, Oba-san," Sasuke mengangguk hormat. "Senbei yang kemarin masih belum habis, nanti saja aku datang kembali untuk membeli."

"Baiklah," kata wanita paruh baya itu, masih dengan bibir tersenyum. "Oh, ya. Selamat atas kelulusanmu dari akademi hari ini, ya!"

Sebuah senyuman langsung mengembang di bibir Sasuke. Tanpa sadar perasaan bangga memenuhi hatinya. "Arigatou, Oba-san." Dan setelah mengangguk hormat sekali lagi, Sasuke kembali meneruskan langkahnya menuju rumahnya.

"Sasuke!"

Seketika langkah Sasuke berhenti dan ia menoleh ke belakang. Sang ibu, Mikoto Uchiha berlari ke arahnya, dan langsung memeluknya erat.

"Kau pergi ke mana? Tadi saat Kaa-chan pergi ke akademi untuk melihatmu, kau tidak ada di sana," kata ibunya dengan nafas yang masih belum teratur.

Perasaan bersalah langsung menyelimuti hati Sasuke, begitu membayangkan ibunya pasti berlari ke sana kemari untuk mencarinya. "Gomen, Kaa-chan," kedua lengan Sasuke membalas pelukan erat ibunya. "Tadi aku pergi jalan-jalan ke danau."

Mikoto menarik nafas panjang, sebelum tersenyum. Dikecupnya puncak kepala putra bungsunya itu dengan lembut, sebelum ia berkata, "Selamat ya sudah lulus dari akademi hari ini. Kaa-chan bangga padamu, Sasuke."

Sasuke mengangguk. Terharu mendengar ucapan selamat dari ibu yang sangat disayanginya. Meski sebenarnya ia juga ingin mendengar ucapan selamat itu keluar dari mulut ayahnya.

"Nah, ayo pulang!" Mikoto melonggarkan pelukannya, "Kaa-chan sudah membuatkan makanan kesukaanmu. Kau harus menghabiskan semuanya!"

"Oke," balas Sasuke sambil terkekeh geli. Sejak kecil ia memang lemah dengan perlakuan ibunya yang selalu lembut dan memanjakannya.

***

Langit sudah gelap dengan bintang yang bertaburan di langit, ketika Minato dan Naruto keluar dari sebuah minimarket. Naruto sudah tidak rewel lagi dengan isi perutnya karena saat di Ichiraku Ramen tadi sudah memakan ramen kesukaannya sebanyak lima mangkuk porsi besar. Satu tangan Minato menjinjing sebuah tas plastik putih yang berisi bahan-bahan makanan mentah yang dibelinya.

Di sepanjang jalan menuju rumah mereka, dengan sangat ekspresif Naruto kembali melanjutkan ceritanya mengenai ujian akademi. Tidak ada satu pun yang ia lewatkan atau ia sembunyikan. Membuat Minato yang memang selalu menjadi pendengar setia sesekali mengulum senyum geli, karena melihat tingkah pola Naruto yang mirip sekali dengan Kushina, mendiang istrinya.

"Tapi ada satu hal yang sampai sekarang masih membuatku tidak mengerti, Tou-chan."

Kedua alis Minato sontak mengerut begitu melihat Naruto yang tiba-tiba serius memikirkan sesuatu karena perkataannya barusan. "Hal apa itu yang membuatmu tidak mengerti?"

Kedua bola mata sapphire Naruto menatap ayahnya selama tiga detik. "Umm—itu... kenapa Sasuke sangat populer di akademi, ya? Para perempuan bahkan selalu menjerit-jerit kalau melihat Sasuke," katanya sambil memiringkan sedikit kepalanya.

Minato ternganga. Sepolos inikah putranya sampai tidak tahu kenapa si bungsu Uchiha itu begitu populer di kalangan gadis seumuran mereka?

"Saat kutanyakan hal itu pada Sasuke," Naruto kembali melanjutkan, "Sasuke selalu menjawab—" entah untuk mendramatisir keadaan, Naruto dengan cepat membuat style rambutnya seperti Sasuke, kemudian ia melipat kedua tangannya di depan dada, dan memasang wajah cuek khas Sasuke. "—'Mana kutahu!'."

Sesaat Minato bengong melihat Naruto yang berhasil meniru gaya Sasuke dengan sempurna.

"Apa Tou-chan tahu kenapa Sasuke sangat populer?" Kedua mata Naruto membulat saat ia mendongak dan menatap ayahnya.

Minato menarik nafas panjang. Seharusnya Naruto sudah lama tahu kalau Sasuke memang berwajah tampan, makanya si bungsu Uchiha itu populer di kalangan para gadis. Apalagi, Sasuke juga berbakat dengan semua teknik ninja yang dipelajari di akademi. Salah satu faktor terkuat kenapa si bungsu Uchiha itu bisa populer mungkin karena darah Uchiha yang mengalir di dalam tubuhnya. Tapi Minato enggan menjelaskan semua hal itu kepada putranya yang manis itu. Minato tahu Sasuke sudah tertarik pada Naruto sejak kecil; karena sempat sekali ia memergoki Sasuke—yang saat masih berumur tiga tahun—pernah mengelus-elus bokong Naruto dengan wajah mesum. Saat itu, jika saja Mikoto tak menahan dirinya, ia pasti sudah melempar semua kunai-nya ke arah Sasuke sebagai sasaran empuk.

"Tou-chan!" Panggilan Naruto menyadarkan Minato dari lamunannya.

"A-Ah, gomen..." dengan lembut Minato mengelus-elus puncak kepala Naruto, "Mengenai Sasuke yang sangat populer itu, Tou-chan juga tidak tahu," ia mengangkat bahu. Sengaja berbohong. "Tapi, Tou-chan bisa membuatmu tak kalah populer dari si bungsu Uchiha itu!"

Naruto berkedip dua kali. "Benarkah?"

Minato mengangguk meyakinkan. Namun baru saja bibirnya kembali terbuka, dua orang ANBU berseragam lengkap dengan topeng tiba-tiba muncul tak jauh di depannya.

"Ada pertemuan tiba-tiba yang harus segera Anda datangi, Kapten," lapor salah satu ANBU bertopeng seperti kucing.

"Baiklah." Minato mengangguk dengan wajah serius. Kedua ANBU itu kembali menghilang dengan cepat. "Naruto," ia menoleh dan menatap kembali putranya. Wajah seriusnya sudah kembali normal. "Kau pulanglah lebih dulu. Tou-chan harus pergi sekarang."

Bibir Naruto mengerucut cemberut, sebelum ia mengangguk. Sebelah tangannya terulur, meminta ayahnya menyerahkan kantung plastik yang masih dipegangnya agar bisa ia bawa pulang. Minato tersenyum sambil menyerahkannya. Kemudian dengan cepat ia menghilang dengan shunshin no jutsu-nya.

.

. .

Dengan handuk kecil yang bertengger di atas pundaknya, Sasuke berjalan menuju kamarnya sambil mengunyah bagian terakhir buah tomat di tangannya. Tetes-tetes air berjatuhan dari rambut hitamnya yang basah di sepanjang koridor menuju kamarnya. Langkah Sasuke berhenti di depan pintu kamarnya. Tangan kanannya terangkat, memegang kenop pintu. Begitu pintu kamarnya terbuka dan baru saja ia melangkah masuk, suara mercon yang diledakkan Itachi dari balik pintu kamarnya seketika membuat Sasuke terkejut dan tersedak tomat yang sedang dikunyahnya.

"Selamat atas kelulusanmu di akademi, Sasuke!" seru Itachi sambil meniup-niup terompet kecil.

Sasuke masih terbatuk-batuk sambil menepuk-nepuk dadanya. Dan begitu ia selesai dengan acara tersedaknya, dengan geram ia mendelik ke arah sang kakak. "Baka Aniki! Kau membuatku tersedak!" bentaknya dengan suara meninggi.

Sang oknum, Uchiha Itachi memandang sang adik dengan wajah tanpa dosa. "Oh... gomen. Aku tak sengaja." Ia kembali meniup terompet. Yang dengan cepat dirampas oleh Sasuke, kemudian diinjak-injak dengan penuh dendam.

"Sepertinya mood-mu sedang jelek," Itachi tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke arah Sasuke. "Apa karena hari ini kau masih gagal lagi untuk mencium Naruto?"

Jleb! Tepat sasaran.

Kadang Sasuke tak mengerti bagaimana Itachi seolah bisa membaca isi pikirannya. Kakaknya juga sudah lama tahu kalau ia menyukai Naruto. Dan diam-diam sering memberikannya ajaran sesat agar mencabuli Naruto di tempat yang tak bisa diketahui Minato. Itu mustahil.

"Kalau Aniki sudah tahu, kenapa masih bertanya?" dengus Sasuke, sembari melangkah menuju tempat tidurnya. Duduk di pinggiran. Dan mulai sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil di pundaknya.

"Payah," Itachi terkekeh mengejek. Setengah menyindir. "Kalau kau mengikuti saranku, kau pasti tidak akan menyesal."

Kedua mata Sasuke sontak setengah terpejam malas. Ia sudah pernah mempraktekkan dua sampai tiga kali saran dari kakaknya itu. Namun selalu berakhir gagal karena ayah Naruto yang muncul tanpa terduga seperti hantu. "Masalahnya," ia menarik nafas panjang. "Tidak mudah melakukannya karena otou-san Naruto yang selalu muncul tiba-tiba, Aniki," jelasnya.

Satu alis Itachi terangkat. "Ya, satu-satunya cara agar hubunganmu dan Naruto disetujui oleh Minato oji-san hanya dengan mengambil hati calon ayah mertuamu itu. Jadilah calon menantu yang baik Otouto-ku."

Sasuke mendengus. Bagaimanapun, Minato itu terlihat sekali tidak akan mengizinkan hubungannya dengan Naruto. Apalagi ia dan Naruto sesama jenis. "Seandainya Naruto terlahir sebagai gadis..." gumamnya. Kedua matanya menatap langit-langit kamar, menerawang membayangkan. Nyaris mimisan.

"Aku malah lebih suka melihat hubungan sesama jenis antara kau dan Naruto," celetuk Itachi. Sebuah bantal dengan cepat melayang ke arahnya. Namun Itachi bisa menghindarinya dengan cepat. Sudut bibirnya terangkat mengejek ke arah Sasuke.

"CEPAT KELUAR DARI KAMARKU!" raung Sasuke seperti singa yang kehilangan mangsanya.

"Temperamental," bisik Itachi. Tepat sebelum bantal kedua melayang ke arahnya, Itachi sudah menghilang.

***

Naruto sampai di rumah dengan wajah yang masih cemberut. Setelah melepas kedua sepatunya, ia langsung menuju ke arah dapur. Membuka pintu lemari es dan meletakkan bahan-bahan makanan mentah yang tadi dibeli oleh ayahnya. Kedua mata Naruto mengerjap begitu ia melihat sebuah botol besar yang terbuat dari tembikar yang ada di dalam lemari es.

"Botol minuman apa ini?" tanyanya entah pada siapa begitu kedua tangannya mengambil botol besar itu. Kedua alisnya mengerut. Tidak ada tulisan apapun di semua sisi botol besar itu.

Penasaran dengan isi minuman di dalam botol itu, Naruto meletakkannya di atas meja makan. Bagian penutup botol itu terbuat dari kayu. Butuh waktu beberapa menit bagi Naruto untuk membukanya. Didekatkan hidungnya di mulut botol, dan mengendus-endus isi minuman itu.

"Baunya enak," gumamnya tanpa sadar. Buru-buru Naruto berbalik dan mengambil gelas mug-nya, lalu menuangkan isinya. Ujung jari telunjuknya ia celupkan, sebelum ia mengulumnya di dalam mulut. Rasa manis yang belum pernah ia rasa dengan cepat menjalar di indera perasanya. "Wah, enak! Apa ini jus yang dibeli Tou-chan, ya?"

Tanpa tahu kalau sebenarnya isi minuman itu adalah arak dengan persentase alkohol yang sangat tinggi, Naruto dengan lugunya meneguknya sedikit demi sedikit.

Awalnya hanya satu gelas. Lalu berlanjut menjadi dua gelas. Hingga akhirnya isi di dalam botol besar itu habis semua ditelan oleh Naruto.

Sementara itu, di waktu yang sama namun berbeda tempat...

"Aniki! Kenapa kau tiba-tiba mengganti channel-nya!?" protes Sasuke begitu Itachi yang baru selesai mandi tiba-tiba muncul dan mengganti acara televisi yang sedang dinontonnya.

Itachi hanya melirik sekilas. Tidak berniat mengganti acara televisi yang sudah ditunggunya. Sasuke menggeram tertahan. Ia sudah mengambil ancang-ancang untuk merebut remote televisi dari tangan sang kakak, namun suara ibunya yang terdengar dari dapur menghentikan niatnya.

Sasuke mendengus begitu Itachi menyuruhnya segera pergi menemui ibu mereka dengan gerakan tangan. Ogah-ogahan Sasuke berjalan menuju dapur yang tak jauh dari ruang keluarga. Dan begitu ia sampai di ambang pintu dapur, ibunya tampak sibuk membungkus sesuatu.

"Ada apa, Kaa-chan?"

Mikoto menoleh tersenyum, "Tolong antarkan makanan ini di rumah Naruto, ya?"

Mendadak rasa jengkel Sasuke pada kakaknya menguap hilang hanya dengan mendengar nama Naruto. Sasuke mengangguk patuh. Mengambil kantung plastik yang berisi makanan buatan ibunya itu, sebelum berbalik pergi.

***

Tak butuh waktu lama bagi Sasuke untuk mencapai rumah Naruto*. Setelah membuat nafasnya teratur, karena tadi ia sengaja berjalan setengah berlari di atap-atap rumah, Sasuke mengetuk pintu rumah di depannya.

Hening.

Tak ada tanda-tanda kehidupan di dalam rumah. Kedua alis Sasuke mengerut bingung. Jangan-jangan Naruto dan ayahnya belum pulang? Atau Minato memang sengaja tidak mau membukakan pintu rumah karena sudah tahu kedatangan dirinya?

"Naruto! Oi, buka pintunya!" Sasuke akhirnya memilih cara verbal. Ia mulai mengetuk tak sabaran.

Sebelah tangan Sasuke terangkat, memegang gagang pintu. Sasuke sempat bengong. Ternyata pintu tidak terkunci.

Sasuke melangkah masuk. "Naruto," Ia kembali memanggil, sembari berjalan menuju meja makan. Meletakkan kantung plastik berisi makanan yang dibawanya. Kedua matanya mengedar ke sekeliling.

Tiba-tiba dua buah tangan terulur dari bawah meja. Memegang kedua sisi celana Sasuke. Sasuke tersentak. Ia nyaris menendang kedua tangan yang berniat melucuti celananya itu, jika saja ia tak melihat kepala Naruto menyembul dari bawah meja.

"Baa!" Naruto tertawa geli tanpa alasan. Seluruh wajahnya memerah karena efek mabuk.

Sasuke mengernyit. Merasa ada yang aneh dengan Naruto. "Hei, kenapa seluruh wajahmu merah begitu?" tanyanya sambil membungkuk.

Naruto masih tertawa tanpa alasan. Ia bergerak berdiri dengan susah payah. Terhuyung-huyung. Dan nyaris ambruk jika Sasuke tidak cepat menahannya. "Sasuke~ hikkk~ ehehehe~"

Butuh waktu tiga detik bagi otak Sasuke untuk memproses apa yang terjadi pada Naruto, sebelum ia berseru, "Kau mabuk?!" Kedua matanya membelalak lebar.

"Siapa yang—hikkk, mabuuuk~?" Naruto memiringkan kepalanya dengan bibir mengerucut.

"Tercium dari bau nafasmu tahu!" Sasuke menggeram gemas. Kedua bola matanya bergerak liar mencari penyebab Naruto mabuk. Dan begitu ia menangkap sebuah botol besar yang tergeletak di bawah kaki meja, Sasuke langsung membungkuk mengambilnya.

"I-Ini, kan..." Sasuke membelalak horor. Salah satu arak asli buatan Desa Sunagakure. Sasuke pernah melihatnya sekali, karena dulu ayahnya dan beberapa teman ayahnya pernah meminumnya di rumah.

"Sudah habis~" Naruto bergelayutan di leher Sasuke, "Aku sudah meminum semuanya~ ehehehe~"

Sasuke ternganga.

"Ungh—panas..." keluh Naruto, sembari melepas jaket oranyenya. "Nyalakan kipasnyaaa~"

Sebelah tangan Sasuke sontak menepuk dahinya. "Ugh. Lebih baik kau berendam saja di ofuro." Kedua tangannya mendorong pundak Naruto dari belakang menuju kamar mandi.

"Aku tidak mau mandiii~" Suara Naruto melengking tinggi. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak mauuu~"

Sasuke berdecak pelan. Tidak ada pilihan. Ia mengangkat tubuh Naruto ke atas pundaknya seperti karung beras. Naruto meronta-ronta. Kedua tangannya yang mengepal lemah memukul-mukul punggung Sasuke.

"Turunkan~ aku tidak mau mandiii~!"

Menulikan pendengarannya, Sasuke terus berjalan menuju kamar mandi. Ajaibnya, begitu sampai di dalam kamar mandi, dengan girang Naruto melucuti semua pakaiannya, sebelum ia meloncat masuk ke dalam ofuro yang penuh dengan air hangat.

Sasuke memutar kedua bola matanya. Lalu kenapa tadi Naruto terus berteriak tidak mau mandi?

"Sasuke~ ayo kita mandi sama-sama~"

"Tidak." Sasuke menggeleng tegas, "Aku sudah mandi di rumahku tadi." Ia masih cukup waras untuk tidak mandi bersama Naruto. Sekarang saja ia sedang mati-matian menahan diri untuk tidak menyerang pemuda manis itu.

Mencegah dirinya agar tidak melakukan hal-hal mesum pada Naruto, Sasuke berbalik menuju pintu. Tubuhnya seketika mematung begitu pintu tidak terbuka. Terkunci. Sasuke tiba-tiba teringat dengan perkataan Naruto saat mereka duduk berdua di bawah pohon ketika istirahat di akademi.

"Pintu kamar mandi di rumahku sedang rusak. Tidak bisa dibuka dari dalam. Jadi harus ada orang yang membukanya dari luar."

Sasuke meneguk ludah. Ini buruk. Terjebak berdua bersama Naruto di dalam kamar mandi. Sangat buruk.

Wajah Sasuke seketika berubah pucat. Membayangkan hal-hal buruk apa saja yang akan diterimanya secara langsung dari Minato yang murka.
.

.

.



To Be Continued...



KET:

*rumah Naruto dan Minato di fic ini sama seperti di film Naruto Shippuden: Road to Ninja.

Jeanne's notes:

Bisa dibilang fic SN saya kali ini akan memakai jalan cerita seperti di anime/manga-nya, bahkan Naruto movies-nya juga. Tapiii, dengan sedikit perbedaan dari aslinya. Terlebih lagi, di fic ini saya akan menonjolkan hubungan Sasuke dan Naruto yg menjurus ke BL dan yaoi.

Mungkin karakter-karakter yg saya gunakan di fic ini akan sedikit OOC, tapi saya akan berusaha membuatnya tetap in chara.

Untuk sekarang, hubungan SasuNaru masih dalam taraf soft-BL. Yg nantinya akan berubah ke taraf yaoi seiring berkembangnya jalan cerita.